Kamis, 13 September 2012

Jodoh Galau

Diposting oleh littlecloud di 09.41 0 komentar

Dear, Julian..

Kamu percaya dengan sesuatu seperti takdir? Atau jodoh? Aku percaya pada takdir. Yang masih aku bingungkan adalah soal jodoh. Aku belum menemukan sebuah buku yang mengulas habis rahasia jodoh. Yang mencantumkan latar belakang jodoh, rumusan jodoh, sistematika jodoh, dan akhirnya kesimpulan jodoh.

Tapi hampir semua orang yang putus cinta dan mengadu kepada seseorang, si orang tempat pengaduan ini biasanya selalu menyelipkan kalimat: “Sabar ya, beb.. kalau sekarang kamu putus dengan dia, berarti kamu belum jodoh sama dia..”

Oh.. apa jodoh itu bisa dicoba-coba dulu? Apa persoalan jodoh itu sesimpel memilih baju di toko?
Ubek-ubek, cari-cari, pilih-pilih yang bagus tapi murah, yang berkelas tapi harga miring, terus bawa ke kamar ganti, di coba, kalau ngga pas atau ngga cocok, balikin lagi ke tempat asal, kalau males balikin ke tempat asal ya udah taruh dimana saja juga jadi.

Mungkin ngga sih persoalan jodoh tuh semudah itu? Seperti berbelanja baju di toko?

Atau jodoh itu seperti membeli buku?

Datang ke toko, cari-cari, ada sampul yang menarik, ambil lalu baca sinopsisnya, teliti lagi sampulnya, teliti pengarangnya, penerbitnya, ketebalan buku, harga buku, setelah cocok bawa ke kasir lalu di bawa pulang, trus lepas segel palstik, trus baca deh bukunya.

Perasaan aku aja kali ya, tapi kok rasanya lebih bangga menjadi sebuah buku dari pada sebuah baju, ya, Juli?

Hssst, bingung, bingung, kamu bingung ngga sih, Juli?
Nih, aku pernah baca status beberapa temen fb aku, kayak gini:
“Ku yakin kamu lah jodoh hidupku”
“Ya Allah, kalau dia bukan jodohku, tolong periksa lagi, barang kali ada yang salah”
“Jodohku.. maunya ku, dirimu..” *lho jadi nyanyi kan* :D
Ngerti ngga sih, Juli? Kok orang-orang itu bisa seyakin itu sih kalau orang yang tengah dicintainya saat itu adalah jodohnya. Mereka tau dari mana? Apa mereka bisa melihat benang merah jodoh yang biasanya ngga terlihat itu? Atau mereka bisa ngirim permintaan naik banding biar di jodohin dengan orang yang mereka inginkan?

Pengen deh diskusi sama mereka, tanya-tanya soal jodoh ini.
‘emm, kamu kok bisa yakin kalau si fulan itu jodoh kamu? Kamu udah nyocokin di Lauhul Mahfuz ya? Tolong dong liatin yang punya aku juga, kira-kira aku jodoh ngga sama Lee Seunggi? Kalau ngga jodoh bisa ngga sih di type-X-in trus kamu tulis aku jodoh sama Lee Seunggi? Pliiis, Cuma kamu yang bisa nolong aku, soalnya aku ngga bisa benar-benar yakin yang mana sih jodoh aku..’

Tuh kan galau jadinya. -______-

Masalah jodoh ini bukan main-main kan, ya, Juli? Dan pertanyaan-pertanyaan dari Ibu selalu menjadi bumbu-bumbu pemicu kembalinya masalah ini ke permukaan. Mau ngga mau aku jadi kepikiran juga, kan.
Tentu saja ibu memberikan pidato panjang lebar mengenai standar menantu yang beliau harapkan. Aku bicara dalam hati, ‘Ih, jangan-jangan Ibu calon jodohku juga lagi ngomong kayak gini, pidato panjang lebar mengenai standar seorang istri di keluarga mereka..’. soalnya aku inget kalimat teteh mentorku, kalau jodoh kita adalah refleksi diri kita. Ketika kita semakin buruk, maka jodoh kita akan menjadi semakin buruk juga. Ketika kita terus menerus memperbaikki diri, maka jodoh kitapun akan semakin memperbaiki diri juga. Nah, ketika aku lagi di beri wejangan seperti ini, si jodohku-entah-siapa-itu diberi wejangan jugakah? :D

Herannya, kenapa tidak ada syarat untuk rontgen tulang rusuk dulu saat mengurus surat nikah? Kan katanya kalau jodoh tulang rusuknya cocok, kalau ngga cocok kan bisa dibatalin langsung, kalau ngga cocok berarti ngga jodoh, gitu ya Juli?

Juli, Juli, aku risih ditanyain terus-terusan sama keluarga dan tetangga lain. Mereka ngga bisa kreatif dikit buat bikin pertanyaan lain apa.. kalau ketemu di jalan, di angkot, di depan rumah pas nyiram tanaman, di warung, selalu saja mereka memiliki daftar pertanyaan yang sama:

1.       Udah semester berapa? (senyum malu-malu trus bilang, tiga, bu..)
2.       Wah sebentar lagi nikah dong? (sarjana juga belum bu, masa sudah nikah aja.. masih lama bu..)
3.       Ah, jaman sekarang nikah pas kuliah udah ngga aneh lagi kok, jangan lupa undang ibu, ya.. #terus ngeloyor pergi, terus aku bengong, terus kalau nikah pas kuliah udah ngga asing, aku harus nikah saat ini juga, gitu? *senyap-pertanda hari ini bakal telat ke kampus lagi*

Kalau lagi ngasuh Hani di halaman dan ada tetangga yang lewat, kamu bisa bayangin dong mereka ngomong gini padaku, “waaah anaknya udah besar, diin..” *bukan bu.. ini adik saya yang paling kecil..* “ooh.. hahaha adik ya.. kamu kapan atuh beranaknya?” *beranak dalam kubur ya bu? Alhamdulillah saya masih manusia bu walau kadang-kadang ngga yakin juga sih..* “Yah, pokoknya ibu yakin kamu pasti ngga akan lama lagi kok..” *hiks, saya ngga akan lama lagi apanya bu? Matinya?? Boleh ya bu saya nangis duluan? Takutnya ntar ngga ada yang nangisin saya pas mati..* “Iya, iya, Ibu tunggu ya, diin, cepetan cari calon suami.. ntar keabisan lho..” *Ibu mau nunggu saya mati? Lah bu.. berasa barang dagangan aja takut keburu keabisan.. harusnya mereka yang buru-buru dateng ke rumah saya, saya kan limited edition bu..* “Huahahaha ahhh kamu bisa aja, bercandanya lucu din, yowes ntar ibu bilang ke ibu-ibu RT sebelah, bilang di RT sini masih ada gadis yang belum nikah ya hohoho” *aaaaarghhhhhhhhhhhhhhhh!! Smkjh!#$#u58o^(*&%I*UJf432<JLNnhjfT!!!!*

Trus aku harus gimana dong, Juli? Aku ngga suka diribetin masalah kayak gini, tapi aku juga  ngga mau menyesal, dilema kan jadinya.  Umur aku belum kepala dua aja udah dirempongin pertanyaan kayak gini, apalagi kalau udah menanjak di usia itu?? Ihhh..

Dokumentasi Mokaku 2012 (part 1)

Diposting oleh littlecloud di 02.30 0 komentar
Mahasaiswa baru antri berwudhu untuk shalat Dhuha

Stand Pramuka

Partisipasi aktif dari Mahasiswa baru UPI


My favourite object ^^

Sektor 2 di Stand PRAMUKA

Sektor 1 di stand PASMAHA

Sektor 4

Sektor 9

Sektor 2

Teh Sofi, Irma SN, dan Haliiiin ><

Selasa, 31 Juli 2012

Resume Pedagogik BAB 7: Kasih Sayang, Kewibawaan, dan Tanggung Jawab Pendidikan

Diposting oleh littlecloud di 00.13 1 komentar

Bab 7
KASIH SAYANG, KEWIBAWAAN, DAN TANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN
Pengertian Kasih Sayang
Kasih sayang merupakan pola hubungan yang unik diantara dua orang manusia atau lebih. Pola hubungan ini ditandai oleh adanya perasaan kasih sayang, saling mengasihi, saling mencintai, saling memperhatikan dan saling memberi. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa kasih sayang adalah kebutuhan alami manusia. Manusia tidak bisa hidup tanpa makanan dan minuman, demikian juga manusia tidak bisa hidup tanpa kasih sayang. Manusia mencintai dirinya dan ingin dicintai oleh orang lain. Anak-anak lebih membutuhkan kasih sayang daripada orang dewasa. Seorang anak tidak begitu peka apakah ia tinggal di gunung atau di istana, jenis pakaian apa yang dikenakan atau menu makanan apa yang dimakan. Anak tidak begitu peka tapi ia sangat peka dengan perasaan orang lain terhadapnya.
Kasih sayang adalah kebutuhan setiap orang, maka kasih sayang sedemikan dahsyat mempengaruhi kehidupan anak manusia. Anak-anak yang dibesarkan dalam limpahan kasih sayang akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan kuat.
Kasih sayang mempengaruhi kesehatan fisik. Hati yang berbunga-bunga karena limpahan kasih sayang akan menyehatkan saraf dan fisik. Anak-anak yang kenyang dengan kasih sayang orangtuanya, tubuhnya lebih sehat dari anak-anak yang kurang mendapatkan kasih sayang. Anak-anak yang besar dalam limpahan kasih sayang orangtua akan menjadi anak-anak yang memiliki hati yang hangat. Karena sudah merasakan kebahagiaan kasih sayang dan orangtuanya, maka ia juga akan memperlakukan orang lain dengan penuh kecintaan. Ketika ia dewasa ia akan belajar mencintai istriya, anak-anaknya, sahabat dan masyarakat disekitarnya dengan maksimal.
Manusia yang dicintai akan membalas kasih sayang orang yang mencintainya. Karena manusia itu pada dasarnya sangat mencintai dirinya, maka ia juga akan mencintai orang yang mencintai dirinya dan memandang dengan pandangan yang positif. Begitu pula anak-anak yang tumbuh dalam lautan kasih sayang orangtuanya akan memandang orangtuanya sebagai manusia yang baik, bisa dipercaya dan patut didengar. Orangtua yang mencintai anaknya akan lebih banyak manuai sukses dalam mendidik anak-anaknya.
Kasih sayang juga akan menyelamatkan anak-anak dari sifat-sifast kerdil. Anak-anak yang kuang atau tidak mendapatkan kasih sayang orangtuanya akan tumbuh sebagai anak yang merasa terkucilkan. Ia akan membenci orangtua dan orang lain dan besar kemungkinan akan menjadi anak-anak yang suka melakukan hal-hal yang berbahaya.
Dalam suatu riwayat, Nabi Musa as bertanya kepada Allah Swt, “Amalan apakah yang paling utama?”, “Kasih sayang kepada anak-anak! Karena fitrah mereka itu atas tauhid dan kalau Aku wafatkan anak-anak tersebut, maka mereka akan Ku-masukkan ke surga!”.
Dalam proses pendidikan di sekolah peran orangtua digantikan oleh pendidik atau guru, pola hubungan mendidik perlu dilandasi oleh kasih sayang dari pendidik kepada perdik agar terjalin ikatan perasaan yang dapat mendukung tercapainya tujuan pendidikan.
Dampak Kasih sayang yang Berlebihan
Kasih sayang orangtua memang penting tapi kalau terlalu berlebihan akan mendatangkan akibat yang tidak diharapkan. Kasih sayang itu seperti air atau makanan kalau diberikan dengan ukuran yang tepat dan dengan jumlah yang tepat, maka anak memberikan hasil yang maksimal, tapi kalau tidak demikian akan berubah menjadi sesuatu yang tidak baik. Kasih sayang yang terlalu berlebihan untuk anak-anak adalah pengkhianatan.
Anak-anak itu bukan mainan orangtua, tapi ia adalah manusia yang masih kecil yang harus dididik untuk menyongsong masa depannya. Orangtua harus sadar bahwa, suatu hari mereka akan lepas dari mereka. Anak-anak juga tidak selamanya anak-anak. Mereka akan tumbuh menjadi dewasa dan harus bergaul delam kehidupan sosial akan mengalami hal0hal yang menyenangkan, menyedihkan, menyengsarakan dan membahagiakan.
Sebagai orangtua yang baik, mereka harus mempersiapkan sesuatu untuk masa depan anak-anak mereka. Mereka harus dididik supaya menjadi manusia yang tangguh di hari esok. Jangan membiarkan mereka menjadi anak-anak yang tidak berdaya, lemah dan selalu mengiba-iba uluran tangan orang lain. Akibat negatif kasih sayang berlebihan:
·         Tumbuhnya sikap ingin diperlakukan istimewa
·         Anak akan mengalami masalah dalam kehidupan rumah tangganya.
·         Anak akan menjadi anak yang sangat rentan dengan masalah, kehilangan kepercayaan diri, tidak berani mengmabil resiko, tidak mau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang penting dan selalu mengharapkan uluran tangan oran lain.
·         Anak tidak mau lagi mengembangkan diri karena merasa cukup dengan apa yang diterimanya.
·         Anak bisa jadi memiliki sifat tercela, seperti sombong, egois, minimnya simpati untuk orang lain, dan lain-lain.

Peranan Kasih Sayang Dalam Pendidikan
Peranan kasih sayang dalam pendidikan di sekolah merupakan begian yang tak terpisahkan dalam membentuk sikap, kepribadian dan perilaku anak disamping peran keluarga dan masyarakat. Banyak peran yang semestinya dilakukan oleh seorang pendidik dalam menjalankan proses pendidikan, diantaranya:
a.       Pendidik sebagai pembimbing
b.      Pendidik sebagai pembantuk kepribadian
c.       Pendidik sebagai tempat perlindungan
d.      Pendidik sebagai figur tauladan
e.       Pendidik sebagai sumber pengetahuan
Pengertian Kewibawaan
Kewibawaan atau Gezag, adalah suatu daya mempengaruhi yang terdapat pada seseorang, sehingga orang lain yang berhadapan dengan dia, secara sadar dan suka rela menjadi tunduk dan patuh kepadanya.
Pengenalan dan pengakuan kewibawaan membutuhkan bahasa, sehingga pengenalan dan pengakuan wibawa itu berjalan sejajar dengan tumbuhnya bahasa pada kanak-kanak. Bahasa merupakan tempat pertemuan antara pendidik dan perdik. Dengan bahasa, perdik dapat mengerti apa arti anjuran dan larangan dari pendidik, sehingga dengan demikian dapatlah dikenal dan diakui bewibawa.
Macam-macam Kewibawaan
Ditinjau dari daya mempengaruhi seseorang, maka kewibawaan dapat dibedakan menjadi:
a.       Kewibawaan lahir
Yaitu kewibawaan yang timbul akibat kesan-kesan lahiriah seseorang.
b.      Kewibawaan batin
Seperti adanya rasa cinta, adanya rasa demi kamu, adanya kelebihan batin dan ketaatan kepada norma.
Dua macam kewibawaan itu harus ada dalam pendidikan.
Mempertahankan Kewibawaan dalam Pendidikan
Agar kewibawaan yang dimiliki oleh pendidik tidak goyah, tidak lemah, maka hendaknya pendidik itu selalu:
a.       Bersedia memberi alasan
b.      Bersikap you attitude
c.       Bersikap sabar
d.      Bersikap memberi kebebasan
Kewibawaan dan Perdik
Dapat dikatakan bahwa kewibawaan ialah syarat mutlak (conditiosine qua non) untuk mendidik. Lengeveld berpendapat bahwa pendidikan anak sesungguhnya baru dimulai pada umur 3 tahun. Jika ada usaha yang dimulai atau diberikan sebelum anak berusia 3 tahun, ini disebut dengan pendidikan pendahuluan.
Jika anak sudah dapat mengakui kewibawaan pendidik, maka saat itulah dapat dimulai pendidikan dan pengenalan norma yang sesungguhnya. Anak bukan sekedar harus berbuat sesuai dengan norma secara paksa tanpa mengetahui normanya, melainkan norma itu sendirilah yang diperkenalkan kepada perdik. Maka dari itu, pendidik harus menjadikan diri sendiri menjadi perwujudan norma itu sendiri. Selain itu, ada atau tidaknya pendidik sangat mempengaruhi sifat perdik menghadapi norma.
Adapun tahap-tahap proses penerimaan norma adalah sebagai berikut:
a.       Anak menghadapi pendidik sebagai pendukung norma tertentu, yang selalu dilihatnya melaksanakan norma itu.
b.      Anak kemudian mengerti bahwa tindakan-tindakan tingkah laku pendidiknya itu diatur oleh norma.
c.       Setelah anak menglihat norma terlepas dan si pendukung norma, maka tindakan atau tingkah laku pendidik sebagai pendukung norma, selalu dibandingkan dengan norma yang diketahui anak, juga dengan peraturan atau norma yang dikatakan oleh pendidiknya itu.
d.      Bila ternyata pendidik mempunyai tingkah laku yang cocok dengan norma yang dikemukakannya atau dinasehatinya, maka anak akan menerima norma itu dengan sukarela. Tetapi bila perdidik tahu bahwa tindakan atau perbuatan pendidik itu tidak cocok atau bahkan bertentangan dengan norma yang dinasihatkan, maka anak didik akan menolaknya, dan tidak akan melaksanakan norma itu.
Maka dapat dikatakan perkembangan kewibawaan anak didik ditandai dengan tumbuhnya kepercayaan. Dalam lingkungan pendidikan, kepercayaan yang diberikan oleh pendidik kepada anak didik mempunyai dua arti:
a.       Bahwa keinginan pendidik untuk terus mengikat pribadi anak didik pada dirinya telah dapat diatasi oleh pendidik itu.
b.      Bahwa kepercayaan itu merupakan tempat sumber bagi anak didik untuk tumbuh dan berkembang.
Kepercayaan itu memberikan dorongan kepada perdik agar ia berani dan penuh keyakinaan berusaha supaya ia menjadi dewasa, kedewasaan dapat dikatakan akhir masa pendidikan dalam arti apabila menusia itu telah dianggap menjalankan kewibawaan atas diri dan segala sesuatu yang dipercaya dan disamping itu tetap mengakui serta menurut kepada kewibawaan yang lebih besar dan tinggi.
Pengertian tanggung jawab
Tanggung jawab dalam arti harfiah ialah tanggungan beban untuk menjawab. Atau lebih tegasnya adalah tanggungan beban untuk menerangkan suatu kelakuan tertentu. Bertanggung jawab selalu dalam hubungan dengan orang lain. Bertanggung jawab dapat menerangkan perbuatan kita dan kepentingan kita dengan orang lain. Tidak mengganggu orang lain berarti dewasa secara sosial, dewasa secara sosial berarti dapat bertanggung jawab atas segala perbuatan.
Pendidikan dan Tanggung Jawab
Menyinggung masalah perdik, khususnya pada tingkat dewasa, hendaknya para pendidik harus mengetahui apa yang disebut kedewasaan. Karena pada hakekatnya pendidikan adalah mendewasakan anak. Kedewasaan adalah ketika perdik telah bertanggung jawab atas keadaan dirinya baik secara psikologis, paedagogis, biologis dan sosiologis.
Tanggung Jawab Manusia dalam Ajaran Agama
Ada banyak kewajiban yang dibebankan kepada manusia, dan dapat dikelompokkan pada empat kelompok yaitu:
1.      Tanggung jawab manusia terhadap Tuhan
2.      Tanggung jawab manusia terhadap dirinya
3.      Tanggung jawab manusia terhadap keluarga dan masyarakat
4.      Tanggung jawab manusia terhadap keluarga
5.      Tanggung jawab manusia terhadapsanak-kerabat
6.      Tanggung jawab manusia terhadap tetangga
7.      Tanggung jawab manusia terhadap Ayah dan Ibu
8.      Tanggung jawab manusia terhadap anak
9.      Tanggung jawab manusia terhadap alam

Senin, 30 Juli 2012

Resume Pedagogik BAB 5 : Pendidik dan Peserta Didik

Diposting oleh littlecloud di 23.20 1 komentar

BAB 5
PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK
PENDIDIK
Pengertian Pendidik
            Pendidik adalah seorang yang bertanggung jawab terhadap terlaksananya pendidikan, sejalan dengan itu ada juga yang menyatakan bahwa pendidik adalah orang dewasa yang membantu terhadap anak didik agar menjadi dewasa.
            Dalam UU No. 2o tahun 2003 pendidik adalah tenaga pendidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaswara, tutor instruktur, fasilitator dan sebutan lain yang berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
            Sedangkan dalam UU Guru dan Dosen No.14 tahun 2005 guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Ciri-ciri Pendidik
            Ciri utama seorang pendidik adalah adanya kewibawaan yang terpancar dari dirinya terhadap anak didik. Kewibawaan adalah suatu pengaruh yang diakui kebenaran dan kebesarannya, bukan sesuatu yang memaksa.
            Ciri kedua seorang pendidik adalah mengenal peserta didiknya.
            Ciri ketiga seorang pendidik adalah mau membantu peserta didiknya maka bantuan yang diberikan harus sesuai dengan yang diharapkan anak didiknya.

Syarat-syarat Pendidik
1.      Seorang pendidik harus mengetahui tujuan pendidikan
2.      Seorang pendidik harus mengenal peserta didiknya
3.      Seorang pendidik harus tahu prinsip dan penggunaan alat pendidikan
4.      Ia harus mempunyai sikap bersedia membantu peserta didik
5.      Ia harus dapat beridentifikasi terhadap muridnya.

Jenis-jenis Pendidik
            Pendidikan di Indonesia terbagi menjadi pendidik di keluarga, sekolah dan masyarakat, masing-masing komponen tersebut ada bertanggung jawabnya yang juga dikatakan sebagai pendidik.

PESERTA DIDIK
Pengertian Peserta Didik
            Peserta didik adalah umat amnesia yang diakui haknya sebagai individu dan mempunya tanggung jawab sosial dengan demikian peserta didik dikatakan sebagai anak manusia yang tengah berkembang dengan pertolongan pendidik.
            Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
a.       Kelemahan dan Ketidakberdayaan
            Manusia dilahirkan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya. Kelemahan yang dimiliki oleh anak adalah kelemahan rohaniah dan jasmaniah, maka dia tidak kuat oleh gangguan cuaca, keadaan tubuh yang basah, panas atau dingin. Begitu juga rohaniahnya, dia tidak mampu membedakan keadaan yang berbahaya dan menyenangkan. Kelemahan dan ketidakberdayaan makin lama makin hilang berkat pendidikan.

b.      Peserta didik yang berkembang atau belajar
            Bayi yang normal atau sehat tidak pernah diam. Kalu sudah pandai berpindah tempat ia tak mau diam barang sebentar. Apa saja yang ia temukan ia raba dan ia coba. Semua ingin ia ketahui.
             Dalam sorotan ini maka menjadi jelas bagi kita bahwa kegiatan peserta didik yang menunjukkan cirri khas itulah yang dapat memungkinkan kita memberikan pendidikan kepadanya. Sebab kalau tak ada ini amat diragukan bagaimana kita akan membuatnya berkembang, sebab berkembang memerlukan hal yang bersifat dasar, yaitu keinginan dari anak sendiri untuk berkembang.

c.       Peserta didik yang igin menjadi diri sendiri
            Kita mengetahui bahwa hal ini penting baginya, karena untuk dapat bergaul dalam masyarakat, seseorang itu harus merupakan diri sendiri atau pribadi itu. Tanpa itu maka manusia akan menjadi “yesmen”, manusia  masa yang tak punya pribadi.

Jenis-jenis peserta didik
a.                Peserta didik menurut tahap perkembangan
§ Bayi (kira-kira sejak lahir sampai umur satu tahun)
§ Kanak-kanak (1tahun sampai 7 tahun)
§ Anak-anak (7 tahun sampai 13 tahun)
§ Remaja (13 tahun ke atas)
     Masa bayi ini bersifat tidak berdaya di satu pihak akan tetapi pihak lain menunjikkan hasrat berkembang yang tak kunjung berhenti dan dengan semangat yang mengagumkan.
     Masa kanak-kanak adalah masa eksplorasi  (penyelidikan). Masa ini penuh dengan kegairahan untuk melihat dan mengetahui sebanyak-banyaknya.
     Anak-anak adalah mereka yang menginjak masa yang lebih luas daripada dunia kanak-kanak. Masa ini adalah masa perkembangan yang lebih luas. Masa anak-anak lebih  ditandai kepada kehidupan intelektualisme dalam arti pengenalan dunia yang lebih luas dan sedikit abstrak, serta dunia khayal.
     Masa remaja adalah masa untuk menyesuaiakan diri peserta didik menjadi lebih matang dalam segi sosialnya, disamping ia belajar lebih banyak mengenai kematangan rukhaniah dalam segi tanggung jawab dan kematagan perasaan serta berfikir.

b.         Peserta didik dibedakan menurut hubungannya dengan pendidik
            Masa bayi hubungan antara peserta didik dan pendidik itu tidak menjadi soal benar, karena pendidik disini lebih banyak mengikuti gerak kehidupan bayi itu sendiri.
            Masa kanak-kanak  komunikasi terletak dalam pergaulan main yang sifatnya mendidik, dan hal ini banyak menyita perhatian kita. Asal kperluan jasmaniah terpenuhi, kesempatan bermain tidak dihalangi maka anak didik tak menjadi kerepotan pendidiknya.
            Masa anak-anak adalah masa pencarian pengetahuan sebanyak mungkin. Masa ini adalah masa realistis, dank arena itu komunikasi antara pendidik dan peserta didik bersifat stabil.
            Pada masa remaja kita mulai menghadapi peserta didik yang menyadari Kediri sendiriannya dengan lebih matang, dan siap berargumentasi denga pengetahuan yang diperoleh pada masa anak-anak. Mereka sudah dapat mebanding dan menilai, dank arena itu pendidik yang ideal bagi mereka tetapi bertindak tegas.

c.         Peserta didik dilihat dari kemampuannya
            Untuk keperluan pengertian tentang hal ini kita membgi peserta didikmenjadi dua kelompok besar: mereka yang kemampuan dasarnya berada pada ukuran normal keatas, dan mereka yang kemampuan dasarnya dibawah normal.

INTERAKSI PEDAGOGIS ANTARA PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK
Dimensi-dimensi interaksi sosial
a.         Interaksi sosial didalam situasi belajar-mengajar ditandai dengan hubungan pkerjaan.
b.         Interaksi sosial didalam situasi belajar-mengajar selalu bertujuan untuk mencapai sesuatu untuk kepentingan murid.
c.         Interaksi sosial disini ditandai dengan kemauan guru untuk membantu murid mencapai suatu kepandaian atau keterampilan serta sikap tertentu.
d.        Sebaliknya interaksi sosial disini berlandaskan anggapan murid bahwa guru itu dapat membantunya dalam hal-hal tertentu da dalam perkembangannya.

Ciri-ciri interaksi belajar-mengajar
a.         Interaksi belajar mengajar bertujuan untuk membantu anak dalam suatu perkembangan tertentu .
b.         Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang sengaja direncanakan untuk mencpai suatu tujuan.
c.         Interaksi belajar mengajar ditandai dengan suatu penggarapan material yang khusus.
d.        Interaksi belajar-mengajar ditandai dengan aktivitas murid.

Jenis interaksi dilihat dari jumlah murid.
§   Jenis interaksi individual
            Pada interaksi ini anak banyak mendapat kesempatan untuk mengalami berbagai proses belaja, karena guru hanya berbicara pada ia seorang, sehingga kesempatan banyak diberikan kepadanya.

§   Interaksi belajar mengajar berkelompok
            Jenis ini yang sekarang banyak dipakai. Hal itu disebabkan karena cara ini lebih murah dan lebih cepat. Murahnya dilihat dari jumlah guru dan peralatan yang diperlukan. Murid disini dapat lebih banyak dapat kesempatan berkembang, karena pergaulan antar murid satu sama lain.
§   Interaksi belajar mengajar dengan tim guru.
            Caranya ialah dengan membagi tugas antar guru-guru tersebut  sesuai dengan keahliannya dan masing-masing bergiliran melakukan interaksi.

Interaksi belajar mengajar dengan perantara modul.
            Pengertian modul ini dibawa kedalam dunia pendidikan. Artinya satu kumpulan berbagai bahan dan tugas pelajaran yang merupakan seperangkat alat pelajaran untuk mencapai suatu tujuan intruksional tertentu.

Syarat-syarat interaksi belajar-mengajar
a.         Interaksi belajar-mengajar harus bertujuan
b.         Setelah tujuan ditemukan tentukanlah bahan pelajaran yang akan menjadi pokok masalah antara guru dan murid.
c.         Tentukanlah prosedurnya atau uraian kegiatannya.
d.        Harus ditetapkan metode yang dipakai serta jenis peralatan pendidikan apa yang harus digunakan.
e.    Suatu interaksi adalah perjalanan suatu kebulatan kegiatan dan pelajaran. Dan juga harus ada evaluasi.

 

Me, and In Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review