Senin, 30 Juli 2012

Resume Pedagogik BAB 5 : Pendidik dan Peserta Didik

Diposting oleh littlecloud di 23.20 1 komentar

BAB 5
PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK
PENDIDIK
Pengertian Pendidik
            Pendidik adalah seorang yang bertanggung jawab terhadap terlaksananya pendidikan, sejalan dengan itu ada juga yang menyatakan bahwa pendidik adalah orang dewasa yang membantu terhadap anak didik agar menjadi dewasa.
            Dalam UU No. 2o tahun 2003 pendidik adalah tenaga pendidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaswara, tutor instruktur, fasilitator dan sebutan lain yang berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
            Sedangkan dalam UU Guru dan Dosen No.14 tahun 2005 guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Ciri-ciri Pendidik
            Ciri utama seorang pendidik adalah adanya kewibawaan yang terpancar dari dirinya terhadap anak didik. Kewibawaan adalah suatu pengaruh yang diakui kebenaran dan kebesarannya, bukan sesuatu yang memaksa.
            Ciri kedua seorang pendidik adalah mengenal peserta didiknya.
            Ciri ketiga seorang pendidik adalah mau membantu peserta didiknya maka bantuan yang diberikan harus sesuai dengan yang diharapkan anak didiknya.

Syarat-syarat Pendidik
1.      Seorang pendidik harus mengetahui tujuan pendidikan
2.      Seorang pendidik harus mengenal peserta didiknya
3.      Seorang pendidik harus tahu prinsip dan penggunaan alat pendidikan
4.      Ia harus mempunyai sikap bersedia membantu peserta didik
5.      Ia harus dapat beridentifikasi terhadap muridnya.

Jenis-jenis Pendidik
            Pendidikan di Indonesia terbagi menjadi pendidik di keluarga, sekolah dan masyarakat, masing-masing komponen tersebut ada bertanggung jawabnya yang juga dikatakan sebagai pendidik.

PESERTA DIDIK
Pengertian Peserta Didik
            Peserta didik adalah umat amnesia yang diakui haknya sebagai individu dan mempunya tanggung jawab sosial dengan demikian peserta didik dikatakan sebagai anak manusia yang tengah berkembang dengan pertolongan pendidik.
            Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional, peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
a.       Kelemahan dan Ketidakberdayaan
            Manusia dilahirkan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya. Kelemahan yang dimiliki oleh anak adalah kelemahan rohaniah dan jasmaniah, maka dia tidak kuat oleh gangguan cuaca, keadaan tubuh yang basah, panas atau dingin. Begitu juga rohaniahnya, dia tidak mampu membedakan keadaan yang berbahaya dan menyenangkan. Kelemahan dan ketidakberdayaan makin lama makin hilang berkat pendidikan.

b.      Peserta didik yang berkembang atau belajar
            Bayi yang normal atau sehat tidak pernah diam. Kalu sudah pandai berpindah tempat ia tak mau diam barang sebentar. Apa saja yang ia temukan ia raba dan ia coba. Semua ingin ia ketahui.
             Dalam sorotan ini maka menjadi jelas bagi kita bahwa kegiatan peserta didik yang menunjukkan cirri khas itulah yang dapat memungkinkan kita memberikan pendidikan kepadanya. Sebab kalau tak ada ini amat diragukan bagaimana kita akan membuatnya berkembang, sebab berkembang memerlukan hal yang bersifat dasar, yaitu keinginan dari anak sendiri untuk berkembang.

c.       Peserta didik yang igin menjadi diri sendiri
            Kita mengetahui bahwa hal ini penting baginya, karena untuk dapat bergaul dalam masyarakat, seseorang itu harus merupakan diri sendiri atau pribadi itu. Tanpa itu maka manusia akan menjadi “yesmen”, manusia  masa yang tak punya pribadi.

Jenis-jenis peserta didik
a.                Peserta didik menurut tahap perkembangan
§ Bayi (kira-kira sejak lahir sampai umur satu tahun)
§ Kanak-kanak (1tahun sampai 7 tahun)
§ Anak-anak (7 tahun sampai 13 tahun)
§ Remaja (13 tahun ke atas)
     Masa bayi ini bersifat tidak berdaya di satu pihak akan tetapi pihak lain menunjikkan hasrat berkembang yang tak kunjung berhenti dan dengan semangat yang mengagumkan.
     Masa kanak-kanak adalah masa eksplorasi  (penyelidikan). Masa ini penuh dengan kegairahan untuk melihat dan mengetahui sebanyak-banyaknya.
     Anak-anak adalah mereka yang menginjak masa yang lebih luas daripada dunia kanak-kanak. Masa ini adalah masa perkembangan yang lebih luas. Masa anak-anak lebih  ditandai kepada kehidupan intelektualisme dalam arti pengenalan dunia yang lebih luas dan sedikit abstrak, serta dunia khayal.
     Masa remaja adalah masa untuk menyesuaiakan diri peserta didik menjadi lebih matang dalam segi sosialnya, disamping ia belajar lebih banyak mengenai kematangan rukhaniah dalam segi tanggung jawab dan kematagan perasaan serta berfikir.

b.         Peserta didik dibedakan menurut hubungannya dengan pendidik
            Masa bayi hubungan antara peserta didik dan pendidik itu tidak menjadi soal benar, karena pendidik disini lebih banyak mengikuti gerak kehidupan bayi itu sendiri.
            Masa kanak-kanak  komunikasi terletak dalam pergaulan main yang sifatnya mendidik, dan hal ini banyak menyita perhatian kita. Asal kperluan jasmaniah terpenuhi, kesempatan bermain tidak dihalangi maka anak didik tak menjadi kerepotan pendidiknya.
            Masa anak-anak adalah masa pencarian pengetahuan sebanyak mungkin. Masa ini adalah masa realistis, dank arena itu komunikasi antara pendidik dan peserta didik bersifat stabil.
            Pada masa remaja kita mulai menghadapi peserta didik yang menyadari Kediri sendiriannya dengan lebih matang, dan siap berargumentasi denga pengetahuan yang diperoleh pada masa anak-anak. Mereka sudah dapat mebanding dan menilai, dank arena itu pendidik yang ideal bagi mereka tetapi bertindak tegas.

c.         Peserta didik dilihat dari kemampuannya
            Untuk keperluan pengertian tentang hal ini kita membgi peserta didikmenjadi dua kelompok besar: mereka yang kemampuan dasarnya berada pada ukuran normal keatas, dan mereka yang kemampuan dasarnya dibawah normal.

INTERAKSI PEDAGOGIS ANTARA PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK
Dimensi-dimensi interaksi sosial
a.         Interaksi sosial didalam situasi belajar-mengajar ditandai dengan hubungan pkerjaan.
b.         Interaksi sosial didalam situasi belajar-mengajar selalu bertujuan untuk mencapai sesuatu untuk kepentingan murid.
c.         Interaksi sosial disini ditandai dengan kemauan guru untuk membantu murid mencapai suatu kepandaian atau keterampilan serta sikap tertentu.
d.        Sebaliknya interaksi sosial disini berlandaskan anggapan murid bahwa guru itu dapat membantunya dalam hal-hal tertentu da dalam perkembangannya.

Ciri-ciri interaksi belajar-mengajar
a.         Interaksi belajar mengajar bertujuan untuk membantu anak dalam suatu perkembangan tertentu .
b.         Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang sengaja direncanakan untuk mencpai suatu tujuan.
c.         Interaksi belajar mengajar ditandai dengan suatu penggarapan material yang khusus.
d.        Interaksi belajar-mengajar ditandai dengan aktivitas murid.

Jenis interaksi dilihat dari jumlah murid.
§   Jenis interaksi individual
            Pada interaksi ini anak banyak mendapat kesempatan untuk mengalami berbagai proses belaja, karena guru hanya berbicara pada ia seorang, sehingga kesempatan banyak diberikan kepadanya.

§   Interaksi belajar mengajar berkelompok
            Jenis ini yang sekarang banyak dipakai. Hal itu disebabkan karena cara ini lebih murah dan lebih cepat. Murahnya dilihat dari jumlah guru dan peralatan yang diperlukan. Murid disini dapat lebih banyak dapat kesempatan berkembang, karena pergaulan antar murid satu sama lain.
§   Interaksi belajar mengajar dengan tim guru.
            Caranya ialah dengan membagi tugas antar guru-guru tersebut  sesuai dengan keahliannya dan masing-masing bergiliran melakukan interaksi.

Interaksi belajar mengajar dengan perantara modul.
            Pengertian modul ini dibawa kedalam dunia pendidikan. Artinya satu kumpulan berbagai bahan dan tugas pelajaran yang merupakan seperangkat alat pelajaran untuk mencapai suatu tujuan intruksional tertentu.

Syarat-syarat interaksi belajar-mengajar
a.         Interaksi belajar-mengajar harus bertujuan
b.         Setelah tujuan ditemukan tentukanlah bahan pelajaran yang akan menjadi pokok masalah antara guru dan murid.
c.         Tentukanlah prosedurnya atau uraian kegiatannya.
d.        Harus ditetapkan metode yang dipakai serta jenis peralatan pendidikan apa yang harus digunakan.
e.    Suatu interaksi adalah perjalanan suatu kebulatan kegiatan dan pelajaran. Dan juga harus ada evaluasi.

Makalah Rancangan Pembelajaran Membaca Menulis Permulaan

Diposting oleh littlecloud di 23.16 3 komentar

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasan membaca sebagai suatu yang menyenangkan.
Perlu diketahui tugas guru yang terpenting adalah sebagai pelaksana operasional pembelajaran, secara khusus mata pelajaran membaca dan menulis di kelas rendah dapat dilaksanakan dengan baik, maka dari apa itu guru hendaknya mempelajari, memahami, dan mengkaji GBPP yang sudah menjadi tanggung jawabnya, dari situlah guru dapat memperoleh gambaran sejauh mana mata pelajaran tersebut akan disajikan nantinya. Dengan demikian guru dapat merancang pembelajaran, maupun melaksanakan pembelajaran, mampu menilai atau mengevaluasi hasil belajar, yang nantinya bertujuan pada kompetensi yang digariskan dapat tercapai sesuai dengan harapan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pembelajaran MMP di SD?
2. Tujuan dari pembelajaran MMP di SD?
3. Aspek apa saja yang terkandung dalam MMP?

C. Tujuan
1. Memahami rancangan pembelajaran membaca menulis permulaan
2. Mengembangkan kajian KBK mata pelajaran Bahasa Indonesia



 

BAB II

A.      Rancangan Pembelajaran Membaca Menulis Permulaan
1.        Hakikat Membaca
Pada hakikatnya membaca ialah kegiatan yang mata dengan pikiran. Dalam kegiatan membaca, pembaca memproses informasi dari teks yang dibaca untuk  memperoleh makna (Vacca, 1991: 172). Membaca merupakan kegiatan yang dilakukan setiap hari. Dengan membaca kita dapat memperluas pengetahuan yang kita miliki. Oleh karena itu membaca perlu diajarkan sejak awal pembelajaran di SD.
Gibbon (1993) mendefinisikan membaca sebagai proses memperoleh makna dari cetakan. Jadi membaca bukanlah kegiatan yang  bersifat pasif dan reseptif saja, tetapi pembaca juga dituntut untuk berpikir mengenai makna yang terkandung dalam bacaan.

2.        Pembelajaran Membaca Permulaan
Pembelajaran membaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemmapuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk membaca lanjut. Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar membaca (learning to read). Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan. Tingkatan ini disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn). Kedua tingkatan tersebut bersifat kontinum, artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus kegiatannya penguasaan sistem tulisan, telah dimulai pula pembelajaran membaca lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas. Demikian juga pada membaca lanjut menekankan pada pemahaman isi bacaan, masih perlu perbaikan dan penyempurnaan penguasaan teknik membaca permulaan (Syafi’ie,1999: 16).
            Menurut La Barge dan Samuels (dalam Downing dan Leong, 1982) proses membaca permulaan melibatkan tiga komponen, yaitu:
a.       Visual Memory
b.      Phonological Memory
c.       Sematic Memory

B. Pengembangan KBK Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

            Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD merupakan pembelajaran yang paling utama, terutama di kelas rendah. Dikatakan demikian karena dengan bahasalah siswa dapat mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Oleh karena hal itu, guru  sebagai pelaksana dan pengelola pembelajaran dituntut untuk dapat merancang, melaksanakan dan mengevaluasi aspek-aspek yang tercakup dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
            Terdapat empat aspek utama yang harus dikembangkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang telah dirumuskan secara nasional, yaitu 1) menyimak; 2) berbicara; 3) membaca; dan 4) menulis. Serta terdapat dua aspek penunjang yakni Kebahasaan dan Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia.
           
Aspek-aspek Pembelajaran Bahasa Indonesia
1.        Menyimak
Menyimak merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang terjadi secara lansung. Menyimak dapat melatih keterampilan berpikir anak sehingga dapat menerima, memahami dan menyampaikan kembali informasi yang didapat melalui lisan atau tulisan atau bahkan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh pendengarannya.

2.        Berbicara
Berbicara merupakan kegiatan berbahasa yang produktif. Keterampilan ini merupakan implementasi dari kegiatan menyimak. Kegiatan berbicara berkembang cepat pada masa anak-anak. Penambahan kosakata didapat dari hasil simakan. Dalam pembelajaran formal, berbicara dilaksanakan pada kelas rendah yaitu dengan cara memberi kesempatan kepada siswa untuk berbicara mengenai dirinya atau pengalaman yang ia punya atau dengan menceritakan gambar. Kegiata tersebut dapat melatih  keberanian siswa dalam berkomunikasi.
 


3.        Membaca
Memaca merupakan kemampuan mutlak harus dimiliki oleh setiap individu dalam rangka pengembangan diri secara berkelajutan. Membaca perlu diajarkan sejak dini agar manusia dapat mengembangkan dirinya sejak awal. Dalam pembelajaran formal di SD dibagi menjadi dua bagian, yaitu membaca permulaan dan membaca lanjut.
Membaca permulaan dilaksanakan pada SD kelas rendah (I dan II). Di dalam membaca permulaan, siswa diharapkan dapat mengenali jenis-jenis huruf, suku kata, kata dan kalimat serta mampu membaca dalam berbagai konteks. Membaca lanjut mulai diterapkan pada SD kelas III. Ada berbagai jenis membaca lanjut, yaitu:
1)      Membaca Teknik
Membaca teknik ialah membaca dengan lafal yang baik dan benar dan intonasi yang wajar. Guru harus melatih siswa melafalkan fonem dengan benar, tidak menonjolkan aksen kedaerahan.
2)      Membaca dalam Hati
Membaca dalam hati perlu dilatih setelah siswa menguasai huruf. Siswa dilatih tanpa suara dan bibir tidak bergerak. Membaca dalam hati mulai diajarkan pada SD kelas II. Bahan bacaan disesuaikan dengan kemampuan siswa.
3)      Membaca Pemahaman
Membaca pemahaman menrupakan lajutan dari membaca dalam hati. Membaca pemahama ialah membaca tanpa suara dengan tujuan memahami isi bacaan. Untuk mengatahui pemahaman siswa dapat dilakukan dengan menceritakan kembali isi bacaan atau mengajukan pertanyaan seputar isi bacaan.
4)      Membaca Indah
Membaca Indah hampir mirip dengan membaca teknik. Yang berbeda ialah bahan bacaannya. Membaca indah ialah membaca puisi atau fiksi dengan intonasi yang tepat dan emosi yang baik. Kegiatan ini bersifat apresiatif sehingga melibatkan penghayatan, penjiawaan dan emosi.
5)      Membaca Cepat
Membaca cepat bertujuan agar siswa dapat membaca dengan cepat. Waktu yang ditentaukan sesuai dengan tingkat kesukaran bahan bacaan. Siswa perlu dilatih gerakan mata, arah pandangan, hindari membaca kata demi kata dan menunjuk bacaan dengan satu jari. Kegiatan ini diberikan pada SD kelas IV.
6)      Membaca Pustaka
Kegiatan membaca pustaka merupakan kegiatan membaca di luar jam pelajaran. Kegiatan ini dapat berupa penugasan individu maupun kelompok. Kegiatan ini bertujuan agar dapat mengembangkan minat siswa dalam membaca. Untuk itu sekolah perlu menyediakan perpustakaan yang baik, baik dari segi banyak macam buku maupun penataan perpustakaan.
7)      Membaca Bahasa
Membaca ini ditekankan untuk memahami kebahasaan, bukan memahami isi. Jadi melalui membaca kebahasaan siswa dapat dilatih mengenai makna dan penggunaan kata, pemakaian imbuhan, ungkapan serta kaliamt.

4.        Menulis
Menulis atau mengarang merupakan keterampilan berbahasa yang kompleks. Untuk itu menulis perlu dilatih secara teratur dari awal pembelajaran formal. Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang produktif dan ekspresif, karena penulis harus terampil menggunakan grofologi, struktur bahasa dan memilki kemampuan bahasa yang memadai (Mosey, 1986:122).
Pembelajaran menulis di SD terdiri atas dua bagian yaitu menulis permulaan dan menulis lanjut. Menulis permulaan diawali sari melatih siswa memegang alat tulis dengan benar, menarik garis, menulis huruf, suku kata, dan kalimat sederhana biasanya diawali atau bersamaan dengan pembelajaran membaca permulaan.
 

5.        Kebahasaan
Pembelajaran di SD disajikan melalui konteks yang termasuk kebahasaan. Maksudnya, kebahasaan dapat disajikan melalui aspek membaca, pengucapan lafal yang benar, intonasi kalimat, dan lain-lain melalui aspek menulis, penggunaan imbuhan dalam kalimat, paragraf, penulisan ejaan yang benar dan seterusnya. Aspek kebahasaan menunjang keempat keterampilan bahasa.

6.        Sastra
Apresiasi Bahasa dan Sastra ditekankan pada pembelajaran sastra di SD. Muncul dua pengertian yang tersirat didalamnya yaitu Apresiasi Bahasa Indonesia dan Sastra Bahasa Indonesia. Pembelajaran sastra di sekolah dasar melalui tahapan-tahapan sebagai berikut.
a)      Tahapan Penikmatan
Siswa diajak menikmati berbagai hasil karya sastra anak seperti mendengar cerita, mendengar puisi atau menonton drama anak. Tahapan ini diterapkan pada SD tingkat rendah.
b)      Tahapan Penghargaan
Siswa dapat memberi penilaian terhadap karya sastra yang dinikmati, seperti menyenangi buku-buku, puisi, dll.
c)      Tahapan Pemahaman
Siswa dapat membedakan bentuk-bentuk sastra seperti cerpen, puisi ataupun drama.
d)     Tahapan Penghayatan
Dalam tahap ini siswa dapat memahami isi yang terkandung dalam suatu karya sastra seperti tokoh, setting, dan lain-lain.
e)      Tahapan Implementasi
Pada tahap ini siswa dapat menyalurkan kegiatan sastra sesuai dengan minatnya seperti minat dalam membaca, membaca puisi, bermain peran atau yang lainnya.
C.                 Pengembangan KBK Bahasa Indonesia SD
            Berdasarkan pembahasan tentang KBK Bahasa Indonesia SD pada Kegiatan Belajar 1, dan uraian tentang aspek-aspek dalam pembelajaran bahasa Indonesia SD di atas, maka diperlukan pengembangan KBK ke dalam silabus pembelajaran bahasa Indonesia SD.
            Silabus merupakan seperangkat rencana tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas, dan penilaian hasil belajar. Oleh karena itu, silabus harus dikembangkan secara sistematis dan berisi komponen-komponen yang saling berkaitan untuk memenuhi target pencapaian kompetensi dasar. Berikut ini komponen-komponen silabus yang diharapkan dapat membantu dalam pengelolaan pembelajaran, antara lain:
1.      Identitas, isi identitas antara lain, mata pelajaran, satuan pendidikan (SD), kelas atau semester, alokasi waktu, tema, aspek bahasa yang dikembangkan.
2.      Kompetensi dasar, hasil belajar, indikator (lihat dalam KBK Mata Pelajaran).
3.      Langkah-langkah Pembelajaran (dirumuskan oleh guru)
4.      Materi
Pemilihan materi dihubungkan dengan tema yang dipilih, selain itu harus mencermati berbagai kriteria. Isi materi harus mengandung kebenaran, bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, menarik, aktual , tidak bertentangan dengan norma dan dasar negara, dan tidak mengandung sara.
5.      Sumber belajar yang utama bagi guru adalah sarana cetak seperti buku, brosur, majalah, surat kabar, poster, naskah, gambar-gambar dan lingkungan sekitar
6.      Penilaian
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan penilaian antara lain:
a.       Penilaian dapat dilakukan melalui tes tertulis, tes kinerja, hasil karya siswa, proyek, portofolio;
b.      Penilaian harus mencakup tiga aspek, yaitu; pengetahuan, keterampilan, dan sikap,
c.       Penilaian mengacu pada indikator atau tujuan pembelajaran; dan
d.      Tidak berdifat diskriminasi.
            Pengembangan silabus ini dapat dilakukan oleh guru secara individu maupun berkelompok atau dikoordinasikan oleh dinas pendidikan setempat. Format silabus tidak dibakukan. Pada lampiran diberikan dua contoh format silabus berbentuk esai (ke bawa) dan berbentuk matriks (ke samping). Penyajian silabus harus memperhatikan hal-hal berikut: keterbacaan, keterkaitan antar komponen, kepraktisan penggunaan, dan mudah dipahami penggunanya.

Sabtu, 02 Juni 2012

LAPORAN RESUME BUKU 'Mengapa Siswa Gagal' karya John Holt

Diposting oleh littlecloud di 01.09 1 komentar
www.bukudiskon.com/img/p/20402-1743-large.jpg&imgrefurl


A.    Identitas Buku
Nama Pengarang         : John Holt
Nama Penerbit            : Erlangga
Tahun Terbit               : 30 November 2011
Jumlah Halaman          : 310 halaman
Harga                          : Rp. 75. 000,-

B.     Latar Belakang
            Salah satu cara agar mendapatkan cara untuk hidup lebih baik adalah melalui proses pendidikan. Betapa beruntung anak yang dapat memperoleh pendidikan di lembaga pandidikan formal atau sekolah, karena banyak anak yang menginginkan duduk di bangku pendidikan tetapi tidak memiliki kemampuan untuk itu. Pada kenyataannya tidak semua anak yang duduk di bangku pendidikan dapat menggapai kesuksesan, sebagian dari anak-anak tersebut mengalami kegagalan.
            Kegagalan tersebut dapat dilihat dari banyaknya siswa yang tidak bermoral yang sering membuat kekacauan, seperti maraknya kasus geng motor yang mayoritas anggotanya adalah pelajar yang masih duduk di bangku sekolah, lebih fatalnya lagi anggota geng motor tersebut kerap melakukan tindak pidana, seperti kasus-kasus yang ditulis oleh Andri Haryanto dalam situs detikNews.com “Aksi kebrutalan geng motor terjadi pada Jumat (6 April 2012) dini hari lalu. Seorang warga di Pondok Indah, Kebayoran Lama, Jaksel bernama Rahmad Gunawan meregang nyawa setelah dikeroyok oleh sejumlah pemuda bermotor. Aksi tersebut dilakukan karena dendam pelaku terhadap korban. Kemudian pada Sabtu (7 April 2012) lalu, empat orang remaja, satu di antaranya tewas dengan kondisi mata tertusuk di SPBU Shell, Jalan Danau Sunter, Jakarta Utara. Mereka dikeroyok oleh lebih dari 15 orang pemuda berbadan tegap dan berambut cepak yang ditengarai polisi merupakan anggota geng motor. Kasus lainnya terjadi pada Minggu (8 April 2012) dini hari lalu, empat orang warga dikeroyok oleh sekitar 30 pemuda berambut cepak di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakpus. Kelompok yang menumpang 15 motor lebih ini juga melakukan aksi pembakaran motor”.
            Menurut Peter Kline (Hernowo : 15) sekolah harus menjadi ajang kegiatan yang paling menyenangkan disetiap kota dan anak-anak akan sangat cepat belajar jika mereka dibimbing untuk menemukan sendiri prinsip-prinsip belajar tersebut. Dave Meier (Hernowo : 17) juga menyatakan bahwa menyenangkan atau membuat suasana belajar dalam keadaan gembira bukan berarti menciptakan suasana rebut dan hura-hura, kegembiraan dalam hal ini berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan mater yang dipelajari, dan nilai yang membahagiakan pada diri siswa. Tetapi pada kenyataannya sekolah tidak menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswa. Hal ini terjadi, karena saat duduk di bangku sekolah para siswa tidak dibina secara serius sesuai bakat yang dimiliki, sebaliknya siswa dijejali dengan berbagai mata pelajaraan yang belum tentu akan terpakai di masa yang akan datang.
            Kasus yang lebih mengerikan dari geng motor adalah kasus seks bebas yang dilakukan oleh pelajar. Faktanya hasil riset Synote (2004) yang menunjukkan bahwa di empat kota yakni Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan, dari 450 responden, 44% mengaku berhubungan seks pertama kali pada usia 16-18 tahun. Bahkan ada 16 responden yang mengenal seks sejak umur 13-15 tahun. Sebanyak 40% responden melakukan seks di rumah, 26 % dikos, dan 20% lainnya di hotel. Hasil survey ini seakan menjustifikasi Survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terhadap 2.880 remaja usia 15-24 tahun di enam kota di Jawa Barat pada tahun 2002, yang ternyata juga menunjukkan angka yang menyedihkan. Didapatkan data bahwa 39,65% dari mereka mengaku pernah berhubungan seks sebelum nikah (http://www.umm.ac.id)
            Fenomena seperti itu tentu harus mendapatkan perhatian serius dan solusi yang baik untuk menanganinya, baik dari orang tua, pihak lembaga pendidikan maupun dari masyarakat. Tetapi pada kenyataannya kasus seperti ini dianggap hal yang tidak serius dan berdampak pada kegagalan siswa yang terus-menerus terjadi.

C.    Resume Buku

MENGAPA SISWA GAGAL?
John Holt menuliskan pengalamannya selama ia mengajar, dan melalui catatan pengalamannya itulah ia menganalisis berbagai  penyebab kegagalan siswa dalam menerima pelajaran yang diajarkan oleh guru. Melalui catatan tersebut, penyebab kegagalan siswa dapat disimpulkan dan ditanggulangi oleh guru dan calon guru saat ini. Ketika muncul pertanyaan “mengapa siswa gagal?”, munculah jawaban yang sangat beragam dan umumnya kesalahan ini terletak pada orang-orang yang berkutat dalam lembaga pendidikan formal atau sekolah. Hal-hal yang menyebabkan siswa gagal diantaranya :
1.      Pengertian yang salah mengenai intelegensi
Ketika membicarakan intelegensi, yang tersirat dalam pikiran banyak orang adalah nilai dari hasil suatu tes atau kemampuan berprestasi yang bagus di sekolah, hal inilah yang dianggap penting bagi kebanyakan orang. Intelegensi sesengguhnya tidak berfokus pada seberapa besar pengetahuan mengenai cara bertindak, melainkan cara berprilaku ketika tidak tahu apa yang harus dilakukan. Orang yang disebut intelegen adalah orang yang ketika gagal menaklukan sesuatu, tidak akan merasa malu atau takut akan kesalahan-kesalahannya, melainkan mengambil pelajaran dari hal tersebut.
2.      Menanamkan rasa takut pada anak
Sering kali anak ditakut-takuti dengan hal yang absurd, hal ini secara tidak langsung telah merusak kapasitas intelektual dan kreativitas anak. Terkadang anak akan merasa takut karena tidak melakukan apa yang diinginkan pihak lain, takut melakukan kesalahan, takut gagal, takut salah dan lain sebagainya. Bahkan sering kali rasa takut yang sudah terbebtuk dalam diri anak justru dimanfaatkan untuk memanipulasi anak agar melakukan hal yang diperintahkan.
3.      Perusakan minat belajar dan kecintaan belajar tanpa pamrih
Sekolah tidak menjadi tempat yang menenangkan untuk anak, justru malah menjadi tempat yang menjemukan untuk anak. Anak dibuat bosan karena hari-harinya dipenuhi oleh tugas-tugas yang menumpuk dan berulang-ulang, padahal hal ini tidak menarik perhatian atau membangkitkan intelegensi anak. Orang tua dan guru berpendapat bahwa hal membosankan tersebut merupakan persiapan untuk hidup yang lebih baik kelak. Lebih fatal lagi, tugas-tugas tersebut harus dikerjakan dengan benar untuk setiap jawabannya. Dengan waktu yang tidak banyak sementara tugas yang menumpuk, memaksa anak untuk mengerjakan secara kilat, dengan cara seperti itu anak dibiasakan hanya sedikit menggunakan kapasitas berpikirnya. Anak-anak telah dipaksa sejak kecil untuk belajar agar memperoleh ganjaran-ganjaran seperti nilai 100, nilai A, bintang emas, dan yang lainnya. Dengan cara seperti itu secara tidak langsung mendorong anak untuk merasakan bahwa tujuan bersekolah adalah tidak lebih untuk mendapakan nilai yang baik, hal I ni akan merusak kecintaan belajar tanpa pamrih pada anak.
4.      Pengajaran yang salah
Salah satu contoh dari pengajaran yang salah adalah, ketika mempelajari geografi salah satu Negara, anak malah diperintahkan atau diajarkan bernyanyi lagu kebangsaan Negara tersebut. Contoh lainnya, doktrin sekolah yang menyatakan bahwa dengan menggambarkan soal pecahan, siswa dapat mengilustrasikan usaha mereka, meningkatkan tingkat pemahaman mereka mengenai soal pecahan dan menyelesaikan soal pecahan yang mereka kerjakan tanpa melakukan kesalahan. Nyatanya, siswa membutuhkan teori yang lebih dari ‘menggambarkan dengan gambar’, mereka membutuhkan contoh-contoh soal dengan penyelesaian yang rinci dan jelas. Bukan meraba-raba dalam air berlumpur tanpa tahu pasti apa yang harus didapatkan. Guru juga kerap hanya memberikan teori tanpa praktek dan terkadang secara tidak langsung guru menyebabkan siswa menjadi verbalism. Para pendidik terus-menerus mengajarkan hal yang yang tidak masuk akal, ambigu atau bahkan kontradiktif.
5.      Ketidakjujuran seorang guru
Guru terkadang membohongi anak saat anak tersebut mengajukan pertanyaan yang kurang dikuasai oleh guru. Selain itu guru sering menyebutkan bahwa dirinya menyayangi seluruh anak dikelas, tapi pada kenyataannya guru menunjukkan kasih sayang yang lebih pada beberapa anak dalan kelas tersebut.
Di dunia pendidikan yang terjadi sampai sekarang ini, ketika akan diadakannya ujian nasional, guru yang memberitahu jawabannya. Bagi guru itu satu-satunya cara mendapatkan presentase nilai yang pantas atau bahkan di atas batas kelulusan. Dapat dikatakan yang kebanyakan guru inginkan dan hargai bukanlah pengetahuan dan pemahaman tetapi penampakan luarnya saja, dapat dilihat ketika suatu sekolah berhasil meluluskan 100% siswanya, dengan bangganya kepala sekolah mengumumkan kelulusan sekolahnya 100%. Tentu saja dapat menaikan reputasi sekolah dihadapan sekolah lain. dengan bangganya ketika orang memberikan pujian faktanya dibalik kesuksesan terdapat ketidak jujuran. Dan ini yang membuat pendidikan di Indonesia semakin buruk. Tidak hanya dalam ujian nasional saja, ketika melakukan ujian sekolah pun untuk mendapatkan presentase nilai  yang pantas dengan mengumumkan jadwal ulangan, menceritakan dengan detil materi yang akan muncul, dan memberitahukan dari awal macam-macam pertanyaan yang akan diberikan, faktanya dimana-mana guru melakukan hal yang sama, padahal guru menyadari  apa yang dilakukannya tidaklah benar, tetapi guru memiliki ketidak beranian untuk menjadi orang pertama yang menghentikannya. Guru beranggapan itu tidak terlalu menjadi masalah, tentu saja sangatlah keliru, hal itu merupakan masalah  besar, sangat merugikan para siswa, dengan pemahaman ‘’jujur itu tidak penting’’, dan sangat merugikan bagi siswa yang benar-benar berusaha paham, siswa yang tidak puas dengan mengetahui jawaban saja. Melalui peristiwa ini, teknik yang baik untuk mengajar ajari kemudian ujikan dengan tidak memberitahu jadwal ujian.
6.      Perumusan pengetahuan yang dianggap esensial

Pengetahuan yang esensial dirumuskan dalam kumpulan gagasan yang dikenal dengan kurikulum. Padahal pada kenyataannya pengetahuan itu sendiri berubah. Banyak hal yang dipelajari anak di sekolah akan terbukti tidak benar beberapa tahun kemudian. Di sekolah, anak dijejali berbagai macam pengetahuan dari masing-masing pelajaran, padahal tidak semua anak minat terhadap pengetahuan-pengetahuan tersebut, dan tidak ada yang dapat menentukan secara pasti pengetahuan macam apa yang akan dibutuhkan beberapa tahun kedepan. Sekolah harus dijadikan sebagai tempat yang dapat memuaskan rasa ingin tahu anak, mengembangkan kemampuan dan talentanya, mengejar minatnya dan merasakan keragaman kehidupan. Seharusnya pendidik berusaha mendidik anak agar mencintai pembelajaran dan belajar dengan baik sehingga anak mampu mempelajari apa saja yang perlu dipelajari.

7.      Rasa iba yang salah terhadap siswa
Ubah cara pandang guru terhadap siswa seakan siswa tidak mampu mencari sendiri, semua anak cerdas, berhati-hatilah agar tidak menghambat kecerdasannya. Guru hanya perlu menarik perhatian siswa, menuntunnya dan mengawasinya berjalan sendiri.
8.      Kurangnya kepekaan guru terhadap kesalahannya
Setelah mengerti bahwa cara guru mengajar   akan sangat membantu para siswa, atau mungkin malah tidak berguna sama sekali, dan sebagian lagi bahkan benar –benar merugikan, seharusnya guru mengetahui mengenai cara yang mana dan dalam situasi apa. Inilah tugas terpenting guru khususnya yang memiliki siswa yang masih berusia muda, yaitu membuat mudah diakses  suatu  bagian dunia atau pengalaman manusia yang menarik, menggembirakan, penuh makna, transparan, dan secara emosial. Adapula guru yang melakukan pengajaran yang menimbulkan ketegangan. Perasaan tegang ini akan mengganggu kenyamanan para siswa, dan sering kali guru tidak mampu mencairkan ketegangan tersebut.
Kesalahan lainnya yang tidak disadari guru adalah kurangnya pengawasan terhadap siswa yang berbuat curang atau mencontek, bakan anak yang pintar pun terkadang memanfaatkan citra pintarnya untuk mengelabui guru dalan ujian, ketika mendapat nilai yang baik, seolah-olah anak tersebut yang mengerjakannya secara jujur. Faktanya banyak kesalahan yang terjadi dengan keseluruhan struktur sekolah. Dalam suatu peristiwa ada seorang guru terbaik yang berada di sekolah terbaik. dengan tingkat kecerdasan, pendidikan dan berpengetahuan luas, memiliki latar belakang akademis yang baik. Ketika mengajar di suatu kelas, dan guru tersebut memberikan soal. Setelah anak-anak selesai mengerjakan soal, seorang anak membacakan jawabannya, tidak lama kemudian ada anak lain yang mengangkat tangannya. Sebelum anak itu membacakan jawabannya, guru tersebut telah menyanggah jawabannya dengan berkata “ saya tidak ingin mendengar jawaban yang salah”. Anak tersebut tidak berkata apa-apa lagi. Selama dua puluh tahun guru pengalaman guru tersebut mengajar. Apa yang membuat guru seperti itu dikatakan guru yang baik? tidak pernah terpikir olehnya akan berharga baginya untuk mendengar jawaban yang salah, dengan harapan mendapat kesempatan untuk mempelajari dan mengetahui mengapa kesalahan itu terjadi. Faktanya dalam pendidikan, jika kita ingin melihat, kita dapat menemukan banyak jawaban yang salah. Dalam kehidupan nyata inilah yang terjadi, ketika semua jawaban ujian yang dinilai dengan menggunakan mesin, akan langsung menandai jawaban sebagai jawaban yang salah, tanpa mempelajari mengapa kesalahan itu terjadi.


9.      Kebiasaan buruk para siswa
Terkadang ada siswa yang ingin menonjolkan diri di mata gurunya sambil memojokkan rekan-rekan mereka, adalah ‘pengadu’ yang hebat. Masing-masing dari mereka mengatakan hal yang kurang baik dari temannya sendiri hanya untuk terlihat lebih menonjol dibandingkan teman-temanya yang lainnya. Masalah lain yang seringkali timbul dalam proses pembelajaran di dalam kelas adalah kegaduhan atau suara-suara bising dari peserta didik, sebenarnya hal seperti itu  banyak memberi siswa kesempatan untuk bergaul satu sama lain. Tetapi mereka akan menjadi sangat bersemangat sehingga sering menjadi sangat gaduh. Pada saat seperti itu guru harus mampu menentukan suatu cara untuk mengendalikan suasana kegaduhan yang terjadi karna guru terkadang perlu ketenangan ketika akan menyampaikan suatu hal atau menjelaskan sesuatu.
10.  Ketidaknyamanan siswa yang tidak disadari guru

Faktanya yang terjadi dalam dunia pendidikan hingga sekarang ini, sekolah menjadi tempat terpuruk bagi anak. Dapat diartikan anak tidak dapat mengekspresikan kebebasannya, seperti anak yang baru berusia satu, dua sampai tiga tahun mereka melakukan segala yang mereka lakukan dengan sepenuh hati. Mereka bebas berekspresi dan menikmatinya, hal ini yang membuat mereka belajar dengan sangat cepat dan menjadikan dunia sebagai sahabatnya. Berbeda dengan keadaan pendidikan yang sampai sekarang ini membuat anak patuh kepada guru, memaksakan mereka agar mendengarkan kita,menatap wajah guru, dengan sikap duduk yang baik, tangan berada diatas meja, saat itu anak merasa dipaksa agar mereka mematuhi aturan yang ada di kelas, tetapi faktanya pikiran mereka entah kemana, mereka lebih fokus terhadap apa yang menurut mereka menarik. Terlihat anak sedang mengenakan topeng dengan berakting berpura-pura menyenangkan gurunya, dengan memperhatikan tanpa mengerti dan memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan tidak menunjukkan kemampuan dan kecerdasan mereka. Dilihat dari kasus ini, perhatian anak harus dipancing dan ditangkap. Guru harus memiliki strategi untuk mengajar agar proses pembelajaran berlangsung secara menarik. Karena perhatian anak sangatlah penting, agar anak mudah memahami materi yang disampaikan guru. Anak-anak datang ke sekolah dengan segala keingintahuan. Untuk anak kelas satu, dua, hingga tiga anak akan lebih aktif untuk bertanya, dan guru akan dibanjiri dengan pertanyaan tetapi untuk kelas lima hingga enam guru tidak akan dibanjiri pertanyaan seperti kelas rendah. Mereka tidak memiliki pertanyaan bahkan tidak ada keinginan untuk bertanya. Citra diri dan rasa malu membuat anak tidak ada keinginan untuk bertanya. Kebosanan serta perlawanan boleh jadi penyebab kebodohan dan ketakutan yang dialami anak di sekolah. Dapat diambil peristiwa ketika anak diberi tugas oleh guru, boleh jadi karena rasa takut, entah mau melakukannya tetapi bosan, anak akan mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan perhatian, tenaga, intelegensi minimal. Dan ini akan menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan oleh anak.

11.  Kekerasan dalam kelas

Fenomena mengerikan yang juga sering terjadi pada lembaga formal adalah pemukulan anak di dalam kelas, bahkan ada yang harus dilarikan ke rumah sakit karena luka pukulan yang parah. Untuk tingkatan sekolah yang lebih tinggi malah diadakan seremoni pelecehan yang terjadi pada tahun-tahun awal sekolah. Hal ini akan menyebabkan munculnya rasa takut dan penurunan mental pada anak. Kekerasan yang terjadi tidak hanya kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan mental, ratusan orang mulai dari para guru, asisten mengajar, orang tua yang mengajar anak-anak mereka sendiri, bahkan siswa itu sendiri telah banyak yang menginformasikan mengenai seringnya mereka, bahkan juga sangat sering lagi dari guru itu sendiri, melontarkan ejekan kepada siswa yang agak tertinggal dalam pelajaran. Kebanyakan siswa di sekolah cenderung takut akan olok-olok dan ejekan dari teman-temannya serta olok-olok dari guru mereka sendiri atau yang sekarang lebih di kenal dengan istilah bullying. Namun pada kenyataanya kebanyakan guru tidak memperhatikan hal ini, mereka beranggapan mengapa harus repot-repot mengurusi satu siswa yang menjahari siswa lainnya, sedangkan banyak hal lain yang harus guru tersebut kerjakan. Bahkan pernah terjadi seorang siswi berumur 10 tahun ia menjadi korban dari persekongkolan dari teman-teman sebaya nya, ia di acuhkan dan sama sekali tidak mengajaknya bicara selama berminggu-minggu. Dan ternyata kejadian ini lepas dari pengamatan guru tersebut.

D.    Kesimpulan
Buku yang berjudul “Mengapa Siswa Gagal” karya John Holt ini sangat bermanfat bagi perkembangan pendidikan agar lebih baik, terutama bagi seorang pendidik. Buku karya John Holt ini sangat disarankan untuk dibaca oleh orang-orang yang terjun dalam dunia pendidikan. Buku ini memuat kasus-kasus dalam dunia nyata yang dapat membuat pembaca mudah memahami kesalahan apa yang menyebabkan kegagalan yang dialami siswa. Kesalahan-kesalahan tersebut diantaranya ; Pengertian yang salah mengenai intelegensi, menanamkan rasa takut pada anak, Perusakan minat belajar dan kecintaan belajar tanpa pamrih, pengajaran yang salah, ketidakjujuran seorang guru, perumusan pengetahuan yang dianggap esensial, rasa iba yang salah pada siswa, kurangnya kepekaan guru terhadap kesalahannya, kebiasaan buruk para siswa, ketidaknyamanan siswa yang tidak disadari guru, kekerasan dalam kelas.
 

Me, and In Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review