Sabtu, 02 Juni 2012

LAPORAN RESUME BUKU 'Mengapa Siswa Gagal' karya John Holt

Diposting oleh littlecloud di 01.09 1 komentar
www.bukudiskon.com/img/p/20402-1743-large.jpg&imgrefurl


A.    Identitas Buku
Nama Pengarang         : John Holt
Nama Penerbit            : Erlangga
Tahun Terbit               : 30 November 2011
Jumlah Halaman          : 310 halaman
Harga                          : Rp. 75. 000,-

B.     Latar Belakang
            Salah satu cara agar mendapatkan cara untuk hidup lebih baik adalah melalui proses pendidikan. Betapa beruntung anak yang dapat memperoleh pendidikan di lembaga pandidikan formal atau sekolah, karena banyak anak yang menginginkan duduk di bangku pendidikan tetapi tidak memiliki kemampuan untuk itu. Pada kenyataannya tidak semua anak yang duduk di bangku pendidikan dapat menggapai kesuksesan, sebagian dari anak-anak tersebut mengalami kegagalan.
            Kegagalan tersebut dapat dilihat dari banyaknya siswa yang tidak bermoral yang sering membuat kekacauan, seperti maraknya kasus geng motor yang mayoritas anggotanya adalah pelajar yang masih duduk di bangku sekolah, lebih fatalnya lagi anggota geng motor tersebut kerap melakukan tindak pidana, seperti kasus-kasus yang ditulis oleh Andri Haryanto dalam situs detikNews.com “Aksi kebrutalan geng motor terjadi pada Jumat (6 April 2012) dini hari lalu. Seorang warga di Pondok Indah, Kebayoran Lama, Jaksel bernama Rahmad Gunawan meregang nyawa setelah dikeroyok oleh sejumlah pemuda bermotor. Aksi tersebut dilakukan karena dendam pelaku terhadap korban. Kemudian pada Sabtu (7 April 2012) lalu, empat orang remaja, satu di antaranya tewas dengan kondisi mata tertusuk di SPBU Shell, Jalan Danau Sunter, Jakarta Utara. Mereka dikeroyok oleh lebih dari 15 orang pemuda berbadan tegap dan berambut cepak yang ditengarai polisi merupakan anggota geng motor. Kasus lainnya terjadi pada Minggu (8 April 2012) dini hari lalu, empat orang warga dikeroyok oleh sekitar 30 pemuda berambut cepak di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakpus. Kelompok yang menumpang 15 motor lebih ini juga melakukan aksi pembakaran motor”.
            Menurut Peter Kline (Hernowo : 15) sekolah harus menjadi ajang kegiatan yang paling menyenangkan disetiap kota dan anak-anak akan sangat cepat belajar jika mereka dibimbing untuk menemukan sendiri prinsip-prinsip belajar tersebut. Dave Meier (Hernowo : 17) juga menyatakan bahwa menyenangkan atau membuat suasana belajar dalam keadaan gembira bukan berarti menciptakan suasana rebut dan hura-hura, kegembiraan dalam hal ini berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh, serta terciptanya makna, pemahaman (penguasaan mater yang dipelajari, dan nilai yang membahagiakan pada diri siswa. Tetapi pada kenyataannya sekolah tidak menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswa. Hal ini terjadi, karena saat duduk di bangku sekolah para siswa tidak dibina secara serius sesuai bakat yang dimiliki, sebaliknya siswa dijejali dengan berbagai mata pelajaraan yang belum tentu akan terpakai di masa yang akan datang.
            Kasus yang lebih mengerikan dari geng motor adalah kasus seks bebas yang dilakukan oleh pelajar. Faktanya hasil riset Synote (2004) yang menunjukkan bahwa di empat kota yakni Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan, dari 450 responden, 44% mengaku berhubungan seks pertama kali pada usia 16-18 tahun. Bahkan ada 16 responden yang mengenal seks sejak umur 13-15 tahun. Sebanyak 40% responden melakukan seks di rumah, 26 % dikos, dan 20% lainnya di hotel. Hasil survey ini seakan menjustifikasi Survei Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terhadap 2.880 remaja usia 15-24 tahun di enam kota di Jawa Barat pada tahun 2002, yang ternyata juga menunjukkan angka yang menyedihkan. Didapatkan data bahwa 39,65% dari mereka mengaku pernah berhubungan seks sebelum nikah (http://www.umm.ac.id)
            Fenomena seperti itu tentu harus mendapatkan perhatian serius dan solusi yang baik untuk menanganinya, baik dari orang tua, pihak lembaga pendidikan maupun dari masyarakat. Tetapi pada kenyataannya kasus seperti ini dianggap hal yang tidak serius dan berdampak pada kegagalan siswa yang terus-menerus terjadi.

C.    Resume Buku

MENGAPA SISWA GAGAL?
John Holt menuliskan pengalamannya selama ia mengajar, dan melalui catatan pengalamannya itulah ia menganalisis berbagai  penyebab kegagalan siswa dalam menerima pelajaran yang diajarkan oleh guru. Melalui catatan tersebut, penyebab kegagalan siswa dapat disimpulkan dan ditanggulangi oleh guru dan calon guru saat ini. Ketika muncul pertanyaan “mengapa siswa gagal?”, munculah jawaban yang sangat beragam dan umumnya kesalahan ini terletak pada orang-orang yang berkutat dalam lembaga pendidikan formal atau sekolah. Hal-hal yang menyebabkan siswa gagal diantaranya :
1.      Pengertian yang salah mengenai intelegensi
Ketika membicarakan intelegensi, yang tersirat dalam pikiran banyak orang adalah nilai dari hasil suatu tes atau kemampuan berprestasi yang bagus di sekolah, hal inilah yang dianggap penting bagi kebanyakan orang. Intelegensi sesengguhnya tidak berfokus pada seberapa besar pengetahuan mengenai cara bertindak, melainkan cara berprilaku ketika tidak tahu apa yang harus dilakukan. Orang yang disebut intelegen adalah orang yang ketika gagal menaklukan sesuatu, tidak akan merasa malu atau takut akan kesalahan-kesalahannya, melainkan mengambil pelajaran dari hal tersebut.
2.      Menanamkan rasa takut pada anak
Sering kali anak ditakut-takuti dengan hal yang absurd, hal ini secara tidak langsung telah merusak kapasitas intelektual dan kreativitas anak. Terkadang anak akan merasa takut karena tidak melakukan apa yang diinginkan pihak lain, takut melakukan kesalahan, takut gagal, takut salah dan lain sebagainya. Bahkan sering kali rasa takut yang sudah terbebtuk dalam diri anak justru dimanfaatkan untuk memanipulasi anak agar melakukan hal yang diperintahkan.
3.      Perusakan minat belajar dan kecintaan belajar tanpa pamrih
Sekolah tidak menjadi tempat yang menenangkan untuk anak, justru malah menjadi tempat yang menjemukan untuk anak. Anak dibuat bosan karena hari-harinya dipenuhi oleh tugas-tugas yang menumpuk dan berulang-ulang, padahal hal ini tidak menarik perhatian atau membangkitkan intelegensi anak. Orang tua dan guru berpendapat bahwa hal membosankan tersebut merupakan persiapan untuk hidup yang lebih baik kelak. Lebih fatal lagi, tugas-tugas tersebut harus dikerjakan dengan benar untuk setiap jawabannya. Dengan waktu yang tidak banyak sementara tugas yang menumpuk, memaksa anak untuk mengerjakan secara kilat, dengan cara seperti itu anak dibiasakan hanya sedikit menggunakan kapasitas berpikirnya. Anak-anak telah dipaksa sejak kecil untuk belajar agar memperoleh ganjaran-ganjaran seperti nilai 100, nilai A, bintang emas, dan yang lainnya. Dengan cara seperti itu secara tidak langsung mendorong anak untuk merasakan bahwa tujuan bersekolah adalah tidak lebih untuk mendapakan nilai yang baik, hal I ni akan merusak kecintaan belajar tanpa pamrih pada anak.
4.      Pengajaran yang salah
Salah satu contoh dari pengajaran yang salah adalah, ketika mempelajari geografi salah satu Negara, anak malah diperintahkan atau diajarkan bernyanyi lagu kebangsaan Negara tersebut. Contoh lainnya, doktrin sekolah yang menyatakan bahwa dengan menggambarkan soal pecahan, siswa dapat mengilustrasikan usaha mereka, meningkatkan tingkat pemahaman mereka mengenai soal pecahan dan menyelesaikan soal pecahan yang mereka kerjakan tanpa melakukan kesalahan. Nyatanya, siswa membutuhkan teori yang lebih dari ‘menggambarkan dengan gambar’, mereka membutuhkan contoh-contoh soal dengan penyelesaian yang rinci dan jelas. Bukan meraba-raba dalam air berlumpur tanpa tahu pasti apa yang harus didapatkan. Guru juga kerap hanya memberikan teori tanpa praktek dan terkadang secara tidak langsung guru menyebabkan siswa menjadi verbalism. Para pendidik terus-menerus mengajarkan hal yang yang tidak masuk akal, ambigu atau bahkan kontradiktif.
5.      Ketidakjujuran seorang guru
Guru terkadang membohongi anak saat anak tersebut mengajukan pertanyaan yang kurang dikuasai oleh guru. Selain itu guru sering menyebutkan bahwa dirinya menyayangi seluruh anak dikelas, tapi pada kenyataannya guru menunjukkan kasih sayang yang lebih pada beberapa anak dalan kelas tersebut.
Di dunia pendidikan yang terjadi sampai sekarang ini, ketika akan diadakannya ujian nasional, guru yang memberitahu jawabannya. Bagi guru itu satu-satunya cara mendapatkan presentase nilai yang pantas atau bahkan di atas batas kelulusan. Dapat dikatakan yang kebanyakan guru inginkan dan hargai bukanlah pengetahuan dan pemahaman tetapi penampakan luarnya saja, dapat dilihat ketika suatu sekolah berhasil meluluskan 100% siswanya, dengan bangganya kepala sekolah mengumumkan kelulusan sekolahnya 100%. Tentu saja dapat menaikan reputasi sekolah dihadapan sekolah lain. dengan bangganya ketika orang memberikan pujian faktanya dibalik kesuksesan terdapat ketidak jujuran. Dan ini yang membuat pendidikan di Indonesia semakin buruk. Tidak hanya dalam ujian nasional saja, ketika melakukan ujian sekolah pun untuk mendapatkan presentase nilai  yang pantas dengan mengumumkan jadwal ulangan, menceritakan dengan detil materi yang akan muncul, dan memberitahukan dari awal macam-macam pertanyaan yang akan diberikan, faktanya dimana-mana guru melakukan hal yang sama, padahal guru menyadari  apa yang dilakukannya tidaklah benar, tetapi guru memiliki ketidak beranian untuk menjadi orang pertama yang menghentikannya. Guru beranggapan itu tidak terlalu menjadi masalah, tentu saja sangatlah keliru, hal itu merupakan masalah  besar, sangat merugikan para siswa, dengan pemahaman ‘’jujur itu tidak penting’’, dan sangat merugikan bagi siswa yang benar-benar berusaha paham, siswa yang tidak puas dengan mengetahui jawaban saja. Melalui peristiwa ini, teknik yang baik untuk mengajar ajari kemudian ujikan dengan tidak memberitahu jadwal ujian.
6.      Perumusan pengetahuan yang dianggap esensial

Pengetahuan yang esensial dirumuskan dalam kumpulan gagasan yang dikenal dengan kurikulum. Padahal pada kenyataannya pengetahuan itu sendiri berubah. Banyak hal yang dipelajari anak di sekolah akan terbukti tidak benar beberapa tahun kemudian. Di sekolah, anak dijejali berbagai macam pengetahuan dari masing-masing pelajaran, padahal tidak semua anak minat terhadap pengetahuan-pengetahuan tersebut, dan tidak ada yang dapat menentukan secara pasti pengetahuan macam apa yang akan dibutuhkan beberapa tahun kedepan. Sekolah harus dijadikan sebagai tempat yang dapat memuaskan rasa ingin tahu anak, mengembangkan kemampuan dan talentanya, mengejar minatnya dan merasakan keragaman kehidupan. Seharusnya pendidik berusaha mendidik anak agar mencintai pembelajaran dan belajar dengan baik sehingga anak mampu mempelajari apa saja yang perlu dipelajari.

7.      Rasa iba yang salah terhadap siswa
Ubah cara pandang guru terhadap siswa seakan siswa tidak mampu mencari sendiri, semua anak cerdas, berhati-hatilah agar tidak menghambat kecerdasannya. Guru hanya perlu menarik perhatian siswa, menuntunnya dan mengawasinya berjalan sendiri.
8.      Kurangnya kepekaan guru terhadap kesalahannya
Setelah mengerti bahwa cara guru mengajar   akan sangat membantu para siswa, atau mungkin malah tidak berguna sama sekali, dan sebagian lagi bahkan benar –benar merugikan, seharusnya guru mengetahui mengenai cara yang mana dan dalam situasi apa. Inilah tugas terpenting guru khususnya yang memiliki siswa yang masih berusia muda, yaitu membuat mudah diakses  suatu  bagian dunia atau pengalaman manusia yang menarik, menggembirakan, penuh makna, transparan, dan secara emosial. Adapula guru yang melakukan pengajaran yang menimbulkan ketegangan. Perasaan tegang ini akan mengganggu kenyamanan para siswa, dan sering kali guru tidak mampu mencairkan ketegangan tersebut.
Kesalahan lainnya yang tidak disadari guru adalah kurangnya pengawasan terhadap siswa yang berbuat curang atau mencontek, bakan anak yang pintar pun terkadang memanfaatkan citra pintarnya untuk mengelabui guru dalan ujian, ketika mendapat nilai yang baik, seolah-olah anak tersebut yang mengerjakannya secara jujur. Faktanya banyak kesalahan yang terjadi dengan keseluruhan struktur sekolah. Dalam suatu peristiwa ada seorang guru terbaik yang berada di sekolah terbaik. dengan tingkat kecerdasan, pendidikan dan berpengetahuan luas, memiliki latar belakang akademis yang baik. Ketika mengajar di suatu kelas, dan guru tersebut memberikan soal. Setelah anak-anak selesai mengerjakan soal, seorang anak membacakan jawabannya, tidak lama kemudian ada anak lain yang mengangkat tangannya. Sebelum anak itu membacakan jawabannya, guru tersebut telah menyanggah jawabannya dengan berkata “ saya tidak ingin mendengar jawaban yang salah”. Anak tersebut tidak berkata apa-apa lagi. Selama dua puluh tahun guru pengalaman guru tersebut mengajar. Apa yang membuat guru seperti itu dikatakan guru yang baik? tidak pernah terpikir olehnya akan berharga baginya untuk mendengar jawaban yang salah, dengan harapan mendapat kesempatan untuk mempelajari dan mengetahui mengapa kesalahan itu terjadi. Faktanya dalam pendidikan, jika kita ingin melihat, kita dapat menemukan banyak jawaban yang salah. Dalam kehidupan nyata inilah yang terjadi, ketika semua jawaban ujian yang dinilai dengan menggunakan mesin, akan langsung menandai jawaban sebagai jawaban yang salah, tanpa mempelajari mengapa kesalahan itu terjadi.


9.      Kebiasaan buruk para siswa
Terkadang ada siswa yang ingin menonjolkan diri di mata gurunya sambil memojokkan rekan-rekan mereka, adalah ‘pengadu’ yang hebat. Masing-masing dari mereka mengatakan hal yang kurang baik dari temannya sendiri hanya untuk terlihat lebih menonjol dibandingkan teman-temanya yang lainnya. Masalah lain yang seringkali timbul dalam proses pembelajaran di dalam kelas adalah kegaduhan atau suara-suara bising dari peserta didik, sebenarnya hal seperti itu  banyak memberi siswa kesempatan untuk bergaul satu sama lain. Tetapi mereka akan menjadi sangat bersemangat sehingga sering menjadi sangat gaduh. Pada saat seperti itu guru harus mampu menentukan suatu cara untuk mengendalikan suasana kegaduhan yang terjadi karna guru terkadang perlu ketenangan ketika akan menyampaikan suatu hal atau menjelaskan sesuatu.
10.  Ketidaknyamanan siswa yang tidak disadari guru

Faktanya yang terjadi dalam dunia pendidikan hingga sekarang ini, sekolah menjadi tempat terpuruk bagi anak. Dapat diartikan anak tidak dapat mengekspresikan kebebasannya, seperti anak yang baru berusia satu, dua sampai tiga tahun mereka melakukan segala yang mereka lakukan dengan sepenuh hati. Mereka bebas berekspresi dan menikmatinya, hal ini yang membuat mereka belajar dengan sangat cepat dan menjadikan dunia sebagai sahabatnya. Berbeda dengan keadaan pendidikan yang sampai sekarang ini membuat anak patuh kepada guru, memaksakan mereka agar mendengarkan kita,menatap wajah guru, dengan sikap duduk yang baik, tangan berada diatas meja, saat itu anak merasa dipaksa agar mereka mematuhi aturan yang ada di kelas, tetapi faktanya pikiran mereka entah kemana, mereka lebih fokus terhadap apa yang menurut mereka menarik. Terlihat anak sedang mengenakan topeng dengan berakting berpura-pura menyenangkan gurunya, dengan memperhatikan tanpa mengerti dan memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan tidak menunjukkan kemampuan dan kecerdasan mereka. Dilihat dari kasus ini, perhatian anak harus dipancing dan ditangkap. Guru harus memiliki strategi untuk mengajar agar proses pembelajaran berlangsung secara menarik. Karena perhatian anak sangatlah penting, agar anak mudah memahami materi yang disampaikan guru. Anak-anak datang ke sekolah dengan segala keingintahuan. Untuk anak kelas satu, dua, hingga tiga anak akan lebih aktif untuk bertanya, dan guru akan dibanjiri dengan pertanyaan tetapi untuk kelas lima hingga enam guru tidak akan dibanjiri pertanyaan seperti kelas rendah. Mereka tidak memiliki pertanyaan bahkan tidak ada keinginan untuk bertanya. Citra diri dan rasa malu membuat anak tidak ada keinginan untuk bertanya. Kebosanan serta perlawanan boleh jadi penyebab kebodohan dan ketakutan yang dialami anak di sekolah. Dapat diambil peristiwa ketika anak diberi tugas oleh guru, boleh jadi karena rasa takut, entah mau melakukannya tetapi bosan, anak akan mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan perhatian, tenaga, intelegensi minimal. Dan ini akan menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan oleh anak.

11.  Kekerasan dalam kelas

Fenomena mengerikan yang juga sering terjadi pada lembaga formal adalah pemukulan anak di dalam kelas, bahkan ada yang harus dilarikan ke rumah sakit karena luka pukulan yang parah. Untuk tingkatan sekolah yang lebih tinggi malah diadakan seremoni pelecehan yang terjadi pada tahun-tahun awal sekolah. Hal ini akan menyebabkan munculnya rasa takut dan penurunan mental pada anak. Kekerasan yang terjadi tidak hanya kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan mental, ratusan orang mulai dari para guru, asisten mengajar, orang tua yang mengajar anak-anak mereka sendiri, bahkan siswa itu sendiri telah banyak yang menginformasikan mengenai seringnya mereka, bahkan juga sangat sering lagi dari guru itu sendiri, melontarkan ejekan kepada siswa yang agak tertinggal dalam pelajaran. Kebanyakan siswa di sekolah cenderung takut akan olok-olok dan ejekan dari teman-temannya serta olok-olok dari guru mereka sendiri atau yang sekarang lebih di kenal dengan istilah bullying. Namun pada kenyataanya kebanyakan guru tidak memperhatikan hal ini, mereka beranggapan mengapa harus repot-repot mengurusi satu siswa yang menjahari siswa lainnya, sedangkan banyak hal lain yang harus guru tersebut kerjakan. Bahkan pernah terjadi seorang siswi berumur 10 tahun ia menjadi korban dari persekongkolan dari teman-teman sebaya nya, ia di acuhkan dan sama sekali tidak mengajaknya bicara selama berminggu-minggu. Dan ternyata kejadian ini lepas dari pengamatan guru tersebut.

D.    Kesimpulan
Buku yang berjudul “Mengapa Siswa Gagal” karya John Holt ini sangat bermanfat bagi perkembangan pendidikan agar lebih baik, terutama bagi seorang pendidik. Buku karya John Holt ini sangat disarankan untuk dibaca oleh orang-orang yang terjun dalam dunia pendidikan. Buku ini memuat kasus-kasus dalam dunia nyata yang dapat membuat pembaca mudah memahami kesalahan apa yang menyebabkan kegagalan yang dialami siswa. Kesalahan-kesalahan tersebut diantaranya ; Pengertian yang salah mengenai intelegensi, menanamkan rasa takut pada anak, Perusakan minat belajar dan kecintaan belajar tanpa pamrih, pengajaran yang salah, ketidakjujuran seorang guru, perumusan pengetahuan yang dianggap esensial, rasa iba yang salah pada siswa, kurangnya kepekaan guru terhadap kesalahannya, kebiasaan buruk para siswa, ketidaknyamanan siswa yang tidak disadari guru, kekerasan dalam kelas.

Rabu, 18 Januari 2012

Kamis, 12 Januari 2012, hari pertama PEMULA

Diposting oleh littlecloud di 00.57 0 komentar

             Ritual bangun tidur hari ini lebih lama dari biasanya. Ada sebersit pikiran, nanti malam aku ngga akan menatap atap yang sama dengan atap yang saat ini, mungkin yang berada di atas nanti hanya kain tenda. Ya, ya, ya! Hari ini akan dimulai empat hari perkemahan! Ada banyak hal yang harus dilakukan hari ini, hmm seperti misalnya memasukkan semua barang yang kubutuhkan ke dalam tas, dan meminjam baju pramuka, lalu mengirim pagar bambu dan tanaman hijau ke kos-an Sharah, menyetrika baju yang perlu di setrika, aku kesulitan untuk memilih mendahulukan yang mana.

            Pukul setengah tujuh lewat, aku mengirimkan pagar bambu dan tanaman hijau dengan di antar oleh ayah. Sepertinya otot lengan kiriku menjadi lebih berotot karena sepanjang perjalanan aku menahan enam belas potong di satu lengan—lengan yang lain sibuk menyeimbangkan tubuh dengan lalu lintas padat dan kecepatan sepeda motor 60 km/jam, bersyukurlah ada yang menciptakan helm.

            Setelah meletakkan si pagar dan si pot di tempat yang lumayan nyaman, aku menunggu teh Vd di pinggir jalan selama ± satu jam.

            Sampai di rumah, aku segera memasukkan apa yang masih bisa dimasukkan ke dalam tas yang sudah sesak, dan mengeluarkan apa yang tidak begitu penting, tapi satu menit kemudian aku masukkan lagi, dan lima menit kemudian aku keluarkan lagi, berulang-ulang, hingga azan Dzuhur, aku kehabisan waktu. Ketika semua barang telah berada di balik risleting tas, tararata, di luar hujan deras. Oh.. bisakah aku mengangkut satu tas penuh baju, satu tas penuh makanan, dan satu tas sepatu di satu tangan dan tangan lainnya memegang payung? Aku memilih untuk menunggu hujannya mereda sedikit. Pukul satu aku baru pergi, padahal seharusnya jam segitu udah kumpul di kampus (maafkan aku senior :'( ).

            Kanan kiri kulihat semua banyak angkot nol enam..
            Sumpah deh bingung banget.. yang mana angkot buat sangga sepuluuuuh??

            Seorang teteh senior menghampiriku dan bertanya, “Sangga berapa, de?”, “Sepuluh, teh” lalu ia berteriak-teriak meminta petunjuk dimana letak angkot untuk sangga sepuluh. Akan lebih mudah jika teteh itu meminjamiku hp dan aku akan menelpon Wuri, atau mungkin Sharah, lalu mereka akan segera datang ke tempatku atau aku yang akan menghampiri lokasi mereka berada, tapi mungkin teteh ini juga krisis pulsa sepertiku. Teteh itu berjalan menjauh dariku—masih berteriak, “Angkot sangga sepuluh dimanaa?”, aku kan ngga mungkin tetap berdiri di situ—di tengah kerusuhan pengepakkan barang ke dalam (ekhem) angkot—aku berkeliling melihat satu atau dua hidung yang ku kenal, lalu Wuri melambaikan tangannya, “Diiin! Di sini! Buruan!”. Akhirnya sampai juga di (ekhem) angkot yang telah lama kucari-cari. 

Semua teman sanggaku menyambutku dengan sumringah, aku segera mengucapkan belasan permintaan maafku karena terlambat, karena kebodohanku dalam mengatur waktu, keragu-raguanku dalam memilih, kekalahanku melawan hujan dan akhirnya terlambat datang. Mereka semua sangat baik hati tersenyum memaklumi dan menyuruhku dengan lembut untuk memasukkan bawaanku ke dalam angkot. Aku kira kita semua bisa langsung berangkat, yaaah, taunya ada upacara dulu di albar. Pak Rektor berpidato sedikit, dan ada pengarahan dari panitia. Sekelilingku penuh tawa dan canda, beberapa orang teman yang memiliki rasa menghargai orang yang berbicara di depan terlihat bersungguh-sungguh (berekspresi seolah) mendengarkan semua yang di ucapkan oleh siapapun yang berbicara di depan. Beberapa yang lain sibuk dengan ceritanya, ada juga sibuk mengupdate status fb seperti: “Asiik, kemping-kemping” atau “Dadah pussi, malem ini kamu bobo sendiri” (kayak si pussi ini punya akun fb dan bisa baca tulisan ini aja) atau bisa juga seperti yang aku tuliskan di fb-ku sendiri: “Kemping perdana (siapa juga yg mau tau ini perdana atau perdono?), empat hari ngga ketemu Fin dan Denis (dan siapa juga yang peduli siapa itu fin dan denis??)”. Intinya, ngga semua orang yang ada di barisan upacara ini mendengarkan.

            Finally, kita semua muat nih di angkot (ini keajaiban dan masih tanda tanya besar, melihat banyaknya barang yang kami bawa), Dinny dan teh Rinna duudk di kursi depan, dan Sani, Irma, Wuri, Dhea, Sharah, Uma, aku, ada di kursi belakang, berusaha senyaman mungkin.  Dalam perjalanan, kami melewati SMA N 2, aku berseru seraya senyam-senyum menyebalkan, “ini sekolah aku dulu” (iih jijik deh dengernya). Ketika kami melewati pertigaan Cimaung aku harus menahan diri untuk tidak berteriak memberitahu semua orang, “HOOOII kalau mau ke rumah aku belok ke sini lhoooo”. Itu akan sangat memalukan sekali, ya ampun.. siapa sih yang perlu informasi paling ngga bermutu sepanjang 2011 seperti itu?

            Aku, Wuri dan Dinny menunjukkan arah ke rumah Isma pada Kusuma, Dhea, yaah pada siapapun yang telinganya tidak dapat memblokir suara kami. Setidaknya semua orang ingin tahu sejauh apa rumah Isma ke kampus (dan ngga ada yang mau tahu sejauh apa rumahku ke SMA ku—sekitar 15 menit jalan kaki, atau 5 menit naik angkot jauhnya).

            Ternyataaa, oh ternyataa lokasi perkemahannya sama dengan lokasi perkemahan SMA ku duluuu, tapi.. dulu aku ngga ikut kemahnya, tapi aku tau, karena tahun kemarin Puji ikut perkemahan untuk mendampingi adik-adik kelas satu, aku dan kawan-kawan mengunjunginya dan memang ini tepat yang sama dengan yang dulu itu.

            Baru juga turun dari angkot kami semua di sambut dengan meriah oleh ranjau dom-dom-an dan rumput basah. Baju putih dan kerudung putihku kotor karena kecerobohanku memeluk semua tongkat merah pramuka yang terkena tanah dan basah. Semua noda itu membuatku terlihat seperti anak pramuka sungguhan.

            Aku tidak bisa menyusun bambu dan tongkat lalu, tring, menjadi tenda, tenda terbaikku ku terbuat dari selimut dengan garis-garis hitam (seperti yang di rumah sakit bayu asih) yang di sangga oleh dua buah kursi plastik. Di dalamnya ada bantal, guling, dan selimut juga. Kubuat di dalam rumah, tendaku yang mewah itu anti hujan. Aku tidak menemukan kursi plastik bermerk napoleon di tengah-tengah lapangan yang penuh dom-doman, dan aku juga sama tidak bisanya membuat simpul tali untuk bambu-bambu penyusun tenda. Akan kubiarkan teman-temanku yang lain untuk membangun tenda itu, berikan aku arit, atau kored, sini akan ku tebas semua dom-doman di sekitar kapling kita. Tapi faktanyaaa.. Ya Rabbi.. mereka juga ngga ada yang bisa mendirikan tendaaa!! Mungkin mereka juga bisanya bikin tenda dengan kursi plastik sepertiku. Seharusnya aku mencontoh Pinsaku, ia membaca 'Panduan Berkemah' di om google sebelum memulai perkemahan. Tapi kalau aku yang baca itu, kayaknya ngga akan ada perubahan signifikan.

            Satu jam kemudian, kami hanya berhasil membuat dua tiang berdiri berhadapan, kami mencoba untuk tidak memedulikan betapa di kanan dan kiri kami telah berdiri tenda-tenda dan mereka semua telah mulai menata bawaan mereka sedangkan kami disini masih berkutat memikirkan bagaimana caranya menyimpul dua tiang bambu, bagaimana caranya membuat bambu-bambu itu tertanam dengan kuat pada tanah, bagaimana caranya agar panitia kasihan dan mengevakuasi kami semua ke rumah masing-masing. Kami gagal pulang ke rumah masing-masing karena beberapa senior melewati ‘tenda’ yang baru dua batang bambu itu, lalu menolong kami membanugn tenda kami. Kami semua harus berterimakasih (tentu saja), tapi kami juga sedikit kecewa (yaah ngga jadi di evakuasi..).

            Malam ini kami semua sepakat memilih menu nasi dengan telur goreng untuk makan malam. Hujan di luar cukup deras, dari atas tenda kami yang di bangun susah payah oleh para senior dan teman-temanku, tetesan hujan jatuh perlahan-lahan, sampai larut malam kami (red. Aku, wuri, Dinny) masih belum tidur. Dinny si pinsa yang tidur di dekat pintu masuk bolak-balik membenarkan letak patok tenda, menyalakan obor jejadian, menaruh piring di beberapa tempat menetesnya air di dalm tenda, ia benar-benar seorang pemimpin yang bertanggung jawab (atau mungkin kurang kerjaan?). sedangkan aku dan Wuri bercanda-canda dan mengobrol banyak hal. Dari hal yang terkecil ‘ranjau dom-doman’ sampai terbesar ‘betapa inginnya hari lekas pagi agar kami segera mungkin kembali ke tempat tidur kami di rumah’. Aku dan Wuri beberapa kali (lebih dari 3x) bolak-balik ke toilet, karena kami yang ingin sedikit berjalan-jalan. Kami selallu bertemu panitia yang berbeda setiap keluar untuk ke toilet. Saat kedua kalinya ke toilet, kami bertemu seorang akang panitia, dari jauh kami tidak dapat mengenalinya, dari dekat ternyata itu kang Dede, ia  menawarkan senter, Wuri menerima senter itu. Hampir mendekati toilet, kami berpapasan dengan akang yang mendapatkan surat cinta dari Pinsa kami saat mokaku. Saat kami kembali ke tenda, ada dua sosok (yang kata Wuri sih dari bayangannya aja udah ganteng) melipat tangan di dada mereka, berdiri tegak menunggu kami berdua (setidaknya itu yang terlihat atau itu mungkin yang diharapkan, mungkin lho, yang satu sih nungguin senternya balik, yang satu lagi mungkin solider nemenin temennya). Di dalam tenda kami cekikikan, menggoda pinsa kami agar dia iri atau cemburu. Tapi dia tidak begitu menanggapi keisengan kami. Sekitar dini hari aku pergi keluar dengan Uma, di tengah jalan kami bertemu akang panitia (lagi), akang yg ini juga ganteng (setidaknya menurutku begitu), dan menawari kami senter, tapi aku sudah memiliki hp ku yang bisa difungsikan menjadi senter, aku tidak membutuhkan dua senter, maka kami mengacuhkan kebaikan hati akang itu (maaf kang, satu juga cukuup, buat akang aja, ya? Ya? Terimakasih lho kang :) ).

            Aku sedikit merasa bersalah, kenapa ngga di ambil aja sih din senternya?
            Iih aku lagi sibuk menertawakan Uma yang masih linglung dan ngga bisa membedakan sendal kanan dan kiri, sendal miliknya dan milik yang lain, Uma awalnya memakai sendal berwarna ungu bagian kiri di kaki kanan, dan sendal miliknya sendiri bagian kanan di kiri, dan aku masih belum bisa berhenti tertawa padahal sudah jauh melewati akang baik hati itu. Duuh ngerasa bersalah deh.  :(

            Sangga sepuluh mulai beraktivitas sejak pukul setengah tiga pagi, kami semua menghindari kemacetan lalu lintas membersihkan badan yang baru akan dimulai pukul empat pagi dan sudah mengambil start saat pukul tiga. Itu cerita untuk hari kamis. Hari kamis yang dingin dan becek, dan ranjau dom-doman yang merajalela.

(fotonya menyusul ah, lola amat jaringannya.. :(   )

Rabu, 16 November 2011

Janur Kuning (bukan di depan rumah aku, kok)

Diposting oleh littlecloud di 01.04 0 komentar
11-11-11
Tanggal 11-11-11 pekan kemarin sepupu dari ibu ku menikah. dua sepupu yang paaaling dekat denganku sekarang sudah berkeluarga, seneng sih, tapi sedih juga, jadi kesepian gimanaa gitu.
Ini janur kuning yang di pasang waktu pernikahannya.

Kenapa
Kenapa ya kalau ada orang yang nikahan, selaluu aja ada janur kuning?

Google Sakti Mandraguna
menurut google yang menurut http://duniajanurkuning.blogspot.com/2011/05/dekorasi-janur-kuning_1707.html 
Janur kuning merupakan lambang tolak bala. Dalam tradisi Jawa, ketika sebuah keluarga mengadakan hajatan, mantenan misalnya, (apa itu mantenan?) tak lepas dari janur kuning. Biasanya dipasang di pojok-pojok rumah dan di jalan pintu masuk rumah.

Dalam falsafah Jawa, janur bermakna sejane ning nur (arah menggapai cahaya [Ilahi]). Adapun kuning bermakna sabdo dadi (yang dihasilkan dari hati atau jiwa yang bening). Dengan demikian, penggunaan janur kuning dalam membuat ketupat atau dalam berbagai hajatan itu mengandung cita-cita untuk menggapai atau memperoleh nur Allah dengan hati atau jiwa yang suci atau bening. Atau keadaan hati dan jiwa manusia yang suci setelah mendapatkan nur (cahaya) dari Allah.


Subhanallah yaa.. ternyata makna janur kuning itu seperti itu..
tapi ada pendapat dari para Fuqaha bahwa janur ini haram hukumnya, hmm biar jelasnya baca disini aja ya: http://www.mail-archive.com/sarikata@yahoogroups.com/msg04387.html
tapi aku setuju dengan pendapat Ust. Iesje Rositha di link di atas, bahwa selama tidak ada nash qath'i (apa ya nash qath'i?) yang mengharamkannya, berarti ya ngga apa-apa.. apalagi kalau niat pasang janur kuning itu buat arah jalan lokasi pernikahan biar ngga kesasar. kan susah juga kalau nikahannya nan jauh di desa tanpa nama apalagi kalau ngga ada di peta (kalau di google map sih mungkin aja, tapi mungkin juga kan ngga bisa kelacak). silahkan aja bagi kalian yang mau nikahan niih, mau pasang janur kuning, boleeeh, mau ngga juga, boleeeh, yang penting harus ngundang aku yaaa.. hehehe

Mantenan
Mantenan adalah untaian padi yang berjumlah dua untai yang dianggap sebagai manten atau mempelai. kemudian diteruskan dengan upacara mboyong manten atau membawa dua untai padi tersebut ke rumah petani yang mempunyai padi tersebut.
terimakasih untuk http://books.google.co.id  ^.^

Nash Qath'i
Dalil atau nash yang qath’i ialah nash yang menunjukkan kepada makna yang bisa di pahami secara tertentu, tidak ada kemungkinan menerima ta’wil, tidak ada tempat bagi pemahaman arti selain itu.
terimakasih untuk http://blog.uin-malang.ac.id/awan/2011/03/14/dalil-qathi-dan-dzanni/  ^.^

selamat untuk sepupu-sepupu ku tersayang, Mba Indah, Mba Devi, Teh Lia.. udah ya jangan tanya-tanya aku kapan nyusulnya.. nanti juga akan ada waktunya ^_^

Selasa, 15 November 2011

Putri 'One-Day'

Diposting oleh littlecloud di 00.16 0 komentar
Putri 'One-Day
 Ini Wandey, cara baca namanya sama seperti ketika kamu membaca ‘One-day’.
Wandey kelas 1C, beda kelas denganku. Tapi dulu saat MOKAKU kita satu sektor. Dan Wandey ini bener-bener temen yang asiiik banget buat di ajak ngobrol. Dan yang paling aku suka dari Wandey adalah keterbukaannya. Maksud keterbukaan disini itu dia ngga pasang password buat pesan-pesan singkatnya! Padahal hp dia bisa di setting supaya ngga sembarangan orang baca sms dia.. tapi bukan berarti aku sering baca-baca sms dia lho.. pernah ikut sms aja di hp Wandey dan seneng karena ngga perlu ribet-ribet minta password pesan :D
Kulitnya Wandey putih.. dengan beberapa bintik merah imut pada wajahnya, bintik imut itu justru membuatnya lebih manis, apalagi kalau dia lagi pake kerudung biru mudanya.. Fresh (kata Fresh ini termasuk kata favoritku karena kegunaannya yang melingkupi pernyataan pujian ‘menyegarkan’, menyejukkan, membuat tersenyum, senang, dan sejenis kata itu cukup dengan kata fresh) bangeeet.
                Wandey termasuk kedalam jenis makhluk yang jika ditawari suatu jabatan atau tugas dalam suatu acara, dia puaaasti (sekitar 87%) menerima tugas itu dengan senang hati. (kayaknya sih).
Aku sayaaang Wandey. Dia itu baiiik banget. Ramah lagi. Ngga pernah (belum mungkin) bentak-bentak aku walaupun aku sudah sangat menyebalkan, dan dia selalu sabar menghadapi aku yang rese, nyebelin, centil, ngerepotin, dan egois (aku lagi berusaha untuk mengubahnya lho.. do’a kan semoga bisa berkurang kadar nya J). Bagi aku, Wandey seperti seorang kakak perempuan, dia dewasa dan sabar banget. sayang deh sama Wandey :*

Minggu, 30 Oktober 2011

MABIT, 27 Oktober 2011

Diposting oleh littlecloud di 22.16 0 komentar
Waktu SMA aku juga pernah ikutan MABIT, tiap pesantren kilat bulan Ramadhan kan slalu ada MABIT nya.. tapi MABIT yang di kampus aku sekarang bedddda banget sama yang dulu di SMA. perbedaan yang nampak terlihat jelas itu di bagian Qiyamul Lail nya. Kalau dulu, kita terserah aja mau shalat berapa rakaat, mau baca surat apa, mau munfarid atau berjama’ah. Itu terserah. Tapi yang kemarin tuuuh ngga kayak gituu. Shalat nya dua rakaat, satu salam, yaa biasa aja, ada takbir, ada Al Fatihah, tapii saat pembacaan surat, bukan bacaan surat favorit yang selalu menduduki jajaran dua belas ranking teratas daftar isi pada Juz’amma setelah surat Al Fatihah yang di baca, yaa emang sih posisinya tetep setelah surat Al fatihah.. tapi dalam Al Qur’aaaaan, bukan Juz’ammaaaa, dan kamu gampangnya tinggal nyebut aja nama surat nya, Al Baqarah, Ali ‘Imran, An Nisa, sebut nama suratnya aja, jangan tanya isinya, karena aku juga ngga hafal.
Okelah rakaat pertama masih bisa ngikutin, sepuluh ayat pertama  Al Baqarah pernah ngapalin duluuu (-dulu banget, pas SD kelas berapa mah). Jeng, jeeeeeng, kendala mulai muncul di rakaat ke dua. Duuuuh ini surat apa? Ayat berapa? Hiks, ngga hafal.. :’(   dan itulah yang terjadi pada rakaat-rakaat selanjutnya. Belum lagi cobaan berupa kantuk yang saaaaangat dahsyat. Orang yang di samping aku aja gradien tubuhnya udah mendekati 60°. Hebat amat orang itu, bisa tidur sambil berdiri.. waw waw waw.
Dan di dalam hati tanpa sadar terjadi debat pro-kontra antara devil dini, dan angel dini:
Devil dini: “Udddah diiin pura-pura pingsan aja”
Angel Dini: “Jangan mau diiin, mana ada orang pingsan yang ileran, ayan kalee, bedanya busanya udah jadi cair!”
Devil Dini: “So what? Apa yg salah dgn busa yg sudah cair? Kamu ngantuk kan diiin? Liat, liat, yg di pojok sana aja udah ngegoleran, ngga usah maluuu, tinggal pura-pura jatuh aja, beres!”
Angel Dini: “No! No! Jgn di dengerin si devil itu! Usir keluar aja kantuk itu! Ikutin bacaannya, biar ngga tau dan ngga ngerti, tapi dengerin ajalah, jangan sampe tidur, jangan mau kalah! Semangat! Semangat! Kalau sekarang menyerah km akan menyesalinya dan merasa bersalah, dan kamu ngga akan bisa mengobati rasa bersalah itu dgn ikut MABIT pas tingkat tiga, semua udah berbeda, lagi pula belum ada jaminan kamu bisa hidup sampe saat itu kaaan?? Mudah kok, kamu pasti bisa!”
Menyadari hal itu, aku mencoba semua saran si angel. Aku ngga boleh kalah. Pengennya ngambil batang korek dan di pasangin di antara kelopak mata sebagai penyangga biar ngga menutup matanya. Tapi ngga nemu korek. Mau minta ke orang-orang yang bawa roko di bawah, males ah, deket-deket mereka ntar aku kena sial asap rokok nya lagi.. iiihh. Alhamdulillah tanpa si batang korek api masih bisa bertahan sampai rakaat ke delapan. Setelah ituu ada do’a-do’a renungan ya, teteh-teteh yang di sebelah kanan aku dengerinnya sampe nangis sesegukan gitu.. yang di depannya juga kayak gitu. Pas liat ke sebelah kiri, di sebelah kiri ada si ton-ton, dan dia nutupin mukanya pake mukena, jadi mikir gini, ‘anak ini nangis juga ya.. hmm’. Penasaran kok bahunya dia ngga naik turun histeris kayak mba-mba di sebelah, aku tarik tuh mukenanya, oalaaa ternyata dari tadi dia tidur.. zzzz  (~.~”) 

Kalau kita memanfaatkan waktu pemberian panitia dengan disiplin, mungkin kita (Red. Aku, ton-ton, ansal, dn kawan kawan) ngga akan se-ngantuk ini. kita di suruh tidur jam sebelasan kurang, dan emang udah di kasih tau, jam dua itu Qiyamul Lail, tapii dasar anak SMA baru masuk kampus, kita malah bercanda dulu, ngobrol dulu, si Ansal malah sempet buka forum curhat sambil nangis via telpon dgn seseorang entah-siapa-namanya-aku-tidak-tahu, dan aku keasikan dengerin lagu. Kita baru tidur sekitar setengah satu-an. Pas bangun yang otomatis kerasa tuh ngantuuuk banget, dan yakin deh ini muka ngga bener. (berdo’a dalam hati semoga ngga ada peta aliran sungai dengn sudut mulutku sebagai hulunya). Ternyata yang mukanya ngga beres ngga Cuma aku ajaaa ahahaha seneng liat muka asli mereka yang biasanya tampil “WAH” dengan segala rupa make up yang tebelnya ngalahin ketebelan dompet aku, sekarang mereka tampil poloooos, dengan mata merah dan jilbab yang ngga jelas jarum pentulnya pasih nempel di jilbab apa udah nancep di lehernya.
Aku pikir bakalan ada acara uji keimanan seperti keliling kompleks kampus yang notabene nya ngga ada lampu yang menyala di sepanjang koridor. Gelaaaap banget deh pokonya! Tapi ngga ada acara kayak gituu, harus seneng apa kecewa yaaahhhmm..

Mengenai Kuliah Subuh tadi.. setelah melihat video-video yang ditayangkan di kuliah Subuh aku jadi ngga mud makan (alesaaan padahal ngga mud makan karena emang ngga ada duit buat beli makannya). Aku ngerasa berdosa banget bisa seneng-seneng di sini sedangkan ada saudara muslim yang teraniaya di sana, ada anak-anak kecil yang harus dilindungi, ada para korban yang perlu perawatan, dan mereka sedang bertahan di sana, sedangkan apa yang bisa aku lakukan untuk meringankan apa yang telah mereka rasakan? Apa yang bisa aku lakukan untuk mengambil bagian menuntaskan kedzaliman ini? apa ya? L
Akhir kata.. (ya amplooop udah jam sembilan sekarang, padahal amat Cuma nulis segini aja lama juga ternyata) aku seneng ikut MABIT, dan ngga kapok. Di sini aku seneng bisa beribadah lebiih banyak dari biasanya, bisa ketemu temen-temen tercinta, ketemu teteh-teteh tersayang, ketemu pak dosen ganteng, ketemu ‘ekhem lalalalala’ :D , dan dapetin pengalaman baru dan ilmu tambahan! Seneeeeeng deh J
Wassalamu’alaikum wr wb

 

Me, and In Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review